Swasembada Gula Terwujud Bila Gunakan Teknologi Digital
Jawa Tengah, Barometer99.com – Swasembada gula yang di harapkan pemerintah pusat yang dapat mensejahterakan masyarakat petani dan menguntungkan bagi pabrik hingga kini belum bisa dibuktikan, jika tidak diimbangi dengan revitalisasi pabrik modern yang mengunakan teknologi canggih yang bisa menjadi keterbukaan informasi terhadap hasil giling tebu.
Hal ini disampaikan senior petani tebu asal Provinsi Jawa Tengah Haji Sukadi Wibisono melalui selulernya, hari Senin 03 Agustus 2026.
Menurutnya dengan digitalisasi maka tebu yang ditanam petani yang sudah masak siap ditebang dapat diketahui, sehingga hasil redemen yang didapat maksimal yang berimbas positif kepada pendapatan.
“Tebu-tebu yang sudah tua siap di giling tau maupun tebu-tebu yang belum siap di giling tau, bahkan kurang lebih produktifitas mau potensi rendemen tebu petani tau,” ucap petani yang memproduksi pupuk sendiri saat dihubungi www.barometer99.com.
Sukadi Wibisono juga berharap pemerintah yang berwenang menaikkan HPP gula hal itu untuk membendung pengeluaran petani yang kian besar dengan adanya kenaikan pupuk, obat-obatan, pemeliharaan hingga tebang. “Permintaan kenaikan HPP disebabkan adanya kenaikan ongkos mulai dari tanam, pemupukan dan perawatan,” ucapnya.
Sementara ini penggunaan data luasan tanaman tebu masuk langsung HP android petani melalui satelit, untuk hal mengenai yang lebih kongkrit terhadap kwalitas belum terkaver dan perlu dilakukan kolaborasi dengan kecanggihan teknologi.
Sementara itu pabrik gula yang telah kecanggihan teknologi dengan penerapan mesin modern serta digitalisasi (otomatisasi pabrik dan pertanian presisi) sangat berkembang di Brasil dan Australia. Kedua negara ini menjadi teladan utama efisiensi industri gula global.
Negara Teladan Digitalisasi Pabrik Tebu
Brasil: Menjadi pemimpin global industri tebu (terutama di negara bagian São Paulo) yang mengintegrasikan otomatisasi pabrik (SCADA/PLC), manajemen armada berbasis geospasial, serta pemanenan tebu mekanis berskala besar untuk efisiensi produksi gula dan biofuel etanol.
Australia: Mengandalkan sistem pertanian presisi tinggi, mesin pemanen otomatis, hingga jaringan logistik kereta khusus terintegrasi komputer dari kebun menuju pabrik pengolahan di Queensland.
Thailand: Banyak pabrik gula besar (seperti Grup Mitr Phol) yang sukses menerapkan sistem otomasi pabrik menyeluruh (fully automated plant) guna menekan susut energi dan memaksimalkan rendemen.
Karakteristik Pabrik Tebu yang Menguntungkan dengan Teknologi
Otomatisasi Proses (Mill Automation): Menggunakan sensor digital dan PLC untuk mengatur kecepatan gilingan, kestabilan aliran nira, hingga proses kristalisasi otomatis demi menekan downtime dan kehilangan energi.
Pertanian Presisi (Smart Agriculture): Memanfaatkan remote sensing, machine learning, dan traktor berpemandu GPS untuk memantau kesehatan lahan tebu sejak masa tanam hingga panen.
Efisiensi Energi: Ampas tebu (bagasse) langsung dikelola secara otomatis sebagai bahan bakar boiler ramah lingkungan untuk mandiri energi listrik pabrik.
Perbandingan sistem digitalisasi di Brasil vs Thailand
Komponen teknologi utama (seperti DCS atau IoT) yang dipakai di dalam pabrik gula modern. (Efendi)












