Cegah Paham IRET Sejak Dini, 131 Calon Bintara Polri SPN Polda Sumsel Ikuti Sosialisasi

Cegah Paham IRET Sejak Dini, 131 Calon Bintara Polri SPN Polda Sumsel Ikuti Sosialisasi

PALEMBANG, Barometer99.com – Dalam upaya memperkuat ketahanan ideologi di tubuh Polri, Tim Cegah Satgaswil Densus 88 AT Polda Sumatera Selatan menggelar Sosialisasi Pencegahan Paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) kepada 131 Siswa Pendidikan Pembentukan Bintara Polri TA. 2026 SPN Polda Sumsel.

Kegiatan berlangsung pada Jumat, 24 Juli 2026 pukul 08.00 s.d 10.00 WIB di Gedung Bhayangkara SPN Polda Sumsel. Hadir sebagai pemateri Briptu Muhammad Alfarezi, S.H. Kegiatan ini juga dihadiri PLT Ka SPN Polda Sumsel Kombes Pol. Yusantiyo Sandhy, S.H., http://M.Si, Kabag Jarlat AKBP Henry Ambaruan, S.H., M.H, dan Paur Korsis AKP Dedi Hariyanto, S.H.

Dalam pemaparannya, Tim Cegah Satgaswil Sumsel menekankan bahwa pemahaman terhadap bahaya IRET harus ditanamkan sejak masa pendidikan. Calon anggota Polri disebut sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan, persatuan, dan kebhinekaan bangsa.

“Polri tidak hanya bertugas menegakkan hukum, tetapi juga menjadi teladan dalam menjaga toleransi. Pemahaman yang keliru terhadap agama, ideologi, maupun kondisi sosial bisa menjadi pintu masuk paham radikal,” ujar Briptu Muhammad Alfarezi.

*Mengenal RMVE, IMVE, dan NVE*

Materi yang menjadi perhatian peserta adalah penjelasan tentang tiga kategori utama ekstremisme kekerasan yang saat ini menjadi perhatian Densus 88 AT Polri:

– *RMVE (Religiously Motivated Violent Extremism)*
Ekstremisme kekerasan yang dimotivasi oleh tafsir agama secara sempit dan eksklusif. Pelaku meyakini kelompok lain berbeda keyakinan sebagai musuh dan menghalalkan kekerasan atas nama agama.
– *IMVE (Ideologically Motivated Violent Extremism)*
Ekstremisme kekerasan yang didorong oleh ideologi politik, separatisme, atau paham anarkisme. Tujuannya mengganti tatanan negara dan memaksakan kehendak melalui kekerasan.
– *NVE (Nihilistic Violent Extremism)*
Ekstremisme kekerasan yang tidak memiliki tujuan ideologi yang jelas. Umumnya dilatarbelakangi kekosongan nilai, frustasi, dan keinginan menimbulkan kekacauan serta menarik perhatian.

Baca Juga :  Kunjungan Kerja Danrem 031/WB: Perkokoh Sinergi TNI-Pemkab Rohil

Tim juga menjelaskan adanya *irisan antara RMVE dan NVE*. Dalam beberapa kasus, pelaku mengatasnamakan agama, namun secara psikologis dorongan utamanya adalah kekosongan nilai dan dorongan destruktif, bukan pemahaman agama yang utuh.

*Materi Hukum dan Tren Ancaman*

Sosialisasi turut mengupas dasar hukum pemberantasan terorisme, yaitu UU Nomor 5 Tahun 2018 tentang Perubahan atas UU Nomor 15 Tahun 2003, UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI, Surat Edaran Kapolri Nomor SE/8/VII/2022 tentang Pencegahan Ekstremisme dan Eksklusivisme bagi Pegawai Negeri di Lingkungan Polri, serta Perkap Nomor 7 Tahun 2022 tentang Kode Etik Profesi Polri.

Peserta juga dibekali pengetahuan tentang sarana penyebaran radikalisme, cara mengenali website dan akun yang bermuatan radikal, tren modus baru aksi teror, serta contoh kasus keterlibatan anggota Polri dan anak muda dalam jaringan terorisme. Data keterlibatan generasi muda dalam terorisme dan fenomena WAG PCS di lingkungan Polri turut menjadi sorotan.

“Bahaya terbesar adalah ketika anggota Polri terpapar paham radikal. Itu bisa merusak kepercayaan publik dan melemahkan institusi dari dalam,” tegas pemateri.

*Langkah Pencegahan*

Tim menekankan lima upaya utama yang harus dilakukan calon Bintara: menjadi teladan toleransi, meningkatkan literasi digital, melakukan deteksi dini, melaksanakan pembinaan masyarakat, serta bersinergi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan instansi terkait. Peran Densus 88 AT Polri dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme juga dijelaskan secara detail agar peserta memahami tugas fungsi satuan khusus tersebut.

Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Para siswa dinilai mampu memahami materi dengan baik.

PLT Ka SPN Polda Sumsel Kombes Pol. Yusantiyo Sandhy menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini. Ia berharap seluruh siswa dapat menginternalisasi nilai-nilai kebangsaan dan menjadi anggota Polri yang profesional, humanis, serta menolak segala bentuk intoleransi.

Baca Juga :  Pangdam II/Sriwijaya Hadiri Pengajian Ramadhan 1447 H Bersama Forkopimda Sumsel

“Ke depan, adik-adik lah yang akan menjadi benteng terakhir NKRI. Jangan biarkan paham IRET masuk ke pikiran dan hati kita,” pesannya.

Kegiatan sosialisasi berjalan lancar dan menjadi bagian dari komitmen Polri untuk mencegah radikalisme sejak di lingkungan pendidikan. 🇮🇩

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *