Aceh Tamiang, Barometer99.com — Lumpur banjir yang menutupi ruang-ruang kelas SDN 1 Tualang Cut, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang, bukan sekadar sisa bencana alam. Ia menjadi saksi bisu perjuangan para guru yang bertahan di tengah kelelahan, kesedihan, dan kehilangan, demi satu harapan agar anak-anak bisa kembali bersekolah pada 5 Januari 2026.
Di balik lantai yang masih lembap dan dinding yang berlumur lumpur, Wakil Kepala Sekolah SDN 1 Tualang Cut, Ervita Handayani, bersama para guru dan staf, bekerja dalam diam. Tangan-tangan mereka kotor oleh lumpur, namun hati mereka dipenuhi tekad. Dengan peralatan seadanya, mereka membersihkan satu per satu ruangan, sembari menahan letih dan perasaan yang bercampur aduk.
Kesedihan itu kian terasa karena perjuangan ini sejatinya adalah perjuangan bersama Kepala Sekolah mereka tercinta. Sosok yang sejak awal begitu berharap sekolahnya kembali pulih, namun takdir berkata lain. Dalam kondisi sakit, beliau tetap menyimpan harapan besar dan menyambut kabar bantuan dengan senyum dan rasa syukur.
“Waktu itu saya sampaikan bahwa Polres Langsa dan Polsek Tualang Cut akan membantu,” kenang Ervita dengan suara lirih. “Beliau sangat senang… walaupun saat itu beliau sedang sakit.”
Bantuan Polri menjadi titik terang di tengah keputusasaan. Personel Polres Langsa bersama Polsek Tualang Cut serta satu pleton Brimob datang dengan jumlah yang cukup banyak. Mereka menyingsingkan lengan baju, mengangkat lumpur dari ruang kelas, perpustakaan, dan jalur masuk sekolah. Meja, kursi, serta buku-buku yang basah diangkat ke halaman sekolah. Semua dilakukan dengan penuh kepedulian, seolah sekolah itu adalah milik mereka sendiri.
Di tengah hiruk-pikuk pembersihan, sebuah pemandangan yang menggetarkan hati terjadi. Kepala Sekolah SDN 1 Tualang Cut, meski dalam kondisi kesehatan yang menurun, memaksakan diri hadir. Dengan langkah pelan dan tubuh yang lemah, beliau ikut turun membersihkan lumpur bersama guru dan personel Polri. Tidak banyak kata yang diucapkan, namun keteladanan dan cintanya pada sekolah terpancar jelas dari setiap yang dilakukan.
Itulah hari-hari terakhir pengabdian beliau.
Tak lama berselang, sebelum sekolah benar-benar pulih sepenuhnya, Kepala Sekolah SDN 1 Tualang Cut berpulang ke pangkuanNya. Ia pergi tanpa sempat menyaksikan sekolahnya kembali bersih dan siap untuk menyambut tawa anak-anak didiknya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam yang masih terasa hingga hari ini.
Meski diliputi kesedihan, perjuangan harus tetap dilanjutkan. Berkat bantuan Polri dan kegigihan para guru, perlahan sekolah kembali bersih. Seluruh ruangan berhasil dituntaskan. Meski tanpa kelengkapan meubelair, semangat untuk menyambut siswa tetap menyala.
“Alhamdulillah, ruangan sudah bersih semua,” ujar Ervita dengan mata berkaca-kaca. “Walaupun nanti anak-anak mungkin harus lesehan, insyaallah kami siap.”
Ia juga menegaskan bahwa di hari-hari awal masuk sekolah, yang terpenting bukanlah pelajaran akademik, melainkan memulihkan hati dan mental anak-anak yang juga terdampak bencana.
“Mengajak mereka bermain, tertawa, menghilangkan trauma. Walaupun hanya dua atau tiga jam, itu sudah cukup berarti,” tuturnya pelan.
Puncak emosi tak terbendung ketika Ervita menyampaikan ucapan terima kasih. Suaranya bergetar, air mata jatuh satu per satu.
“Maaf…” ucapnya lirih. “Kepala sekolah kami tidak sempat mengucapkan terima kasih secara langsung. Saya mewakili beliau yang sudah meninggal dunia, dan seluruh guru SDN 1 Tualang Cut, mengucapkan terima kasih kepada Mabes Polri dan seluruh jajaran Polri yang telah membantu kami…”
Tangis pun pecah.
“Terima kasih karena telah menolong kami di saat paling sulit. Terima kasih karena sudah peduli pada sekolah kami dan anak-anak kami. Teruslah berbuat baik untuk masyarakat…”
Perjuangan SDN 1 Tualang Cut bukan hanya tentang membersihkan lumpur. Ini adalah kisah tentang cinta pada pendidikan, tentang pengabdian yang tak sempat selesai, dan tentang harapan yang tetap hidup meski air mata terus mengalir. Sebuah perjuangan yang kini dilanjutkan dengan doa, kenangan, dan semangat dari sosok Kepala Sekolah yang telah berpulang, demi masa depan anak-anak yang menanti di balik pintu sekolah.
@listyosigitprabowo
@marzukialba_bd91
@sahabatomjuki
@kapolda_aceh
@spripimpoldaaceh
@spripim.polri
@bidhumaspoldaaceh
@divisihumaspolri
@polisi_peduli
@halo_polisi
@polisi_indonesia
@polisirepublikindonesia
#bidhumaspoldaaceh #poldaaceh #polripresisi #poldaacehmeutuah #kapoldaaceh #PoldaAcehSiagaBencana #bangkitbersamapoldaaceh
Berita Terkait
Polresta Mataram Tangkap Pelaku Pembunuh Mahasiswi Unram Mataram, Barometer99.com- Misteri kematian NDR (21), mahasiswi asal Kabupaten Sumbawa Barat yang ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di Jalan Sakura, Kelurahan Gomong, Kota Mataram pada 17 Mei 2026, akhirnya berhasil diungkap jajaran Satreskrim Polresta Mataram. Setelah melalui penyelidikan intensif selama hampir dua bulan, Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Satreskrim Polresta Mataram berhasil mengamankan seorang pria berinisial HK (17), warga Kelurahan Punia, Kecamatan Mataram, yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka. Keberhasilan pengungkapan kasus tersebut disampaikan langsung oleh Kapolresta Mataram Kombes Pol. Hendro Purwoko, dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Wira Pratama Polresta Mataram, Jumat (31/07/2026). Konferensi pers turut dihadiri Kasat Reskrim Polresta Mataram AKP I Made Dharma YP, para Kanit Reskrim, Tim URC, Kasi Humas Polresta Mataram, serta keluarga korban yang sejak awal mengikuti perkembangan penyelidikan. Kapolresta menjelaskan, peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu dini hari, 16 Mei 2026, di kamar kos korban di kawasan Gomong, Mataram. Namun, jasad korban baru ditemukan keesokan harinya, Minggu (17/05/2026) sekitar pukul 19.00 Wita, oleh seorang rekannya yang datang ke kos karena korban tidak dapat dihubungi sepanjang hari. “Peristiwa itu terjadi pada dini hari, sedangkan korban ditemukan meninggal dunia keesokan harinya oleh temannya yang datang karena seharian tidak mendapatkan kabar dari korban,” jelas Kapolresta. Usai menerima laporan, Satreskrim Polresta Mataram langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengumpulkan barang bukti, meminta keterangan para saksi, serta melakukan penyelidikan secara intensif. Kapolresta mengungkapkan, titik terang perkara ini bermula dari hasil identifikasi barang-barang milik korban yang hilang, terutama sepeda motor dan telepon genggam. Pada Rabu malam (29/07/2026), Tim URC mengamankan HK dalam penanganan kasus pembacokan di Kota Mataram. Saat diamankan, petugas menemukan sepeda motor yang dikendarai pelaku. Setelah dilakukan pengecekan nomor rangka dan identifikasi kendaraan, polisi memastikan bahwa sepeda motor tersebut merupakan milik NDR yang hilang sejak peristiwa di kamar kos. “Awalnya tim mengamankan tersangka terkait kasus pembacokan. Namun setelah dilakukan identifikasi, sepeda motor yang digunakannya ternyata merupakan milik korban pembunuhan di Gomong. Dari situlah penyelidikan dikembangkan hingga akhirnya tersangka mengakui perbuatannya,” terang Kapolresta. Niat Mencuri Berujung Hilangnya Nyawa Korban Berdasarkan hasil pemeriksaan penyidik, HK mengaku awalnya datang seorang diri ke kawasan kos-kosan dengan tujuan melakukan pencurian. Ia mengamati situasi sekitar sebelum mencoba membuka beberapa pintu kamar kos. Sebagian besar kamar dalam keadaan terkunci, namun pintu belakang kamar korban hanya tertutup tanpa dikunci. Tersangka kemudian masuk secara diam-diam dan mengambil dua unit telepon genggam milik korban. Merasa masih memiliki kesempatan mengambil barang berharga lainnya, HK kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci sepeda motor korban. Namun ketika hendak mengambil kunci tersebut, korban terbangun dan sempat berteriak. Dalam kondisi panik, tersangka diduga mendorong korban hingga terjatuh di atas tempat tidur, kemudian menindih tubuh korban serta membekap mulut dan hidung korban menggunakan bantal hingga korban tidak lagi bergerak. Setelah itu, tersangka membawa kabur sepeda motor milik korban. Untuk menghilangkan jejak, sepeda motor tersebut dipreteli dan diubah tampilannya agar tidak mudah dikenali. Selama hampir dua bulan, kendaraan itu tetap digunakan tersangka dalam aktivitas sehari-hari hingga akhirnya menjadi petunjuk penting yang mengungkap kasus tersebut. Dalam konferensi pers, Kapolresta juga mengungkap bahwa HK merupakan residivis tindak pidana. Dari hasil pemeriksaan sementara, tersangka juga mengaku pernah melakukan tiga aksi penusukan di wilayah Kota Mataram, yakni di Jalan Majapahit, Jalan Airlangga, dan Jalan Bougenville. Menurut pengakuannya, aksi kekerasan tersebut dipicu persoalan sepele, seperti merasa tersinggung karena ditegur atau dipandang oleh korban. Meski demikian, dalam kasus meninggalnya NDR, penyidik menyebut motif utama tersangka adalah pencurian yang kemudian berkembang menjadi tindak kekerasan ketika aksinya diketahui korban. “Jadi motif awalnya adalah pencurian. Karena ketahuan oleh korban, pelaku panik dan melakukan kekerasan yang akhirnya menyebabkan korban meninggal dunia,” tegas Kapolresta. Dalam perkara ini, penyidik telah mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya pakaian korban, tempat tidur, sepeda motor milik korban, serta senjata tajam yang diduga digunakan tersangka dalam sejumlah perkara pembacokan lainnya. Atas perbuatannya, HK dijerat dengan pasal berlapis, yakni Pasal 458 ayat (1), Pasal 479 ayat (3), Pasal 307 ayat (1), dan Pasal 466 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara. Keluarga Korban Sampaikan Apresiasi Pengungkapan kasus tersebut disambut haru oleh keluarga korban yang hadir langsung dalam konferensi pers. Ibu kandung beserta keluarga NDR menyampaikan apresiasi kepada Kapolresta Mataram, Kasat Reskrim, Tim URC, dan seluruh jajaran Polresta Mataram yang dinilai telah bekerja keras hingga berhasil mengungkap kasus yang selama hampir dua bulan menjadi tanda tanya. “Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Polresta Mataram yang telah berhasil mengungkap pelaku pembunuhan anak kami. Atas nama keluarga, kami menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kerja keras seluruh jajaran kepolisian,” ujar perwakilan keluarga korban.***
Post Views: 236