401 Ribu Kasus ISPA Akibat Karhutla, Asep Romy Minta Layanan Medis Diperkuat
Jakarta. Barometer99.com — Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKB, Asep Romy Romaya, mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat layanan medis bagi masyarakat yang terdampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah taktis ini dinilai sangat mendesak mengingat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) telah menembus angka 401.586 kasus di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota.
“Laporan Kemenkes mengenai tingginya angka ISPA akibat karhutla harus menjadi perhatian serius. Kami meminta Kemenkes memperkuat pelayanan kesehatan, memastikan ketersediaan obat-obatan, masker respirator, hingga tabung oksigen bagi masyarakat,” ujar Asep Romy di Jakarta, Kamis (05/11/2026).
Asep Romy merujuk pada data pemantauan Kemenkes hingga awal November 2026 yang mencatat lonjakan drastis kasus ISPA, termasuk tambahan 3.906 kasus baru hanya dalam tempo satu hari. Lonjakan kasus ini paling banyak mengancam kelompok rentan seperti balita sebanyak 91.913 kasus, lansia 56.092 kasus, hingga ratusan ibu hamil.
“Jangan sampai masyarakat yang terpapar asap kesulitan mendapatkan pertolongan medis. Puskesmas dan rumah sakit di wilayah terdampak harus memiliki kesiapan tenaga medis, obat-obatan, serta fasilitas oksigen yang memadai,” tegasnya.
Legislator PKB tersebut menyoroti tren peningkatan kasus yang masih terjadi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat meski beberapa wilayah lain mulai membaik. Kemenkes dan pemerintah daerah diminta memprioritaskan penerjunan posko medis keliling ke daerah terpencil yang jauh dari fasilitas kesehatan.
“Daerah yang masih mencatat peningkatan kasus ISPA harus menjadi prioritas utama penanganan. Pelayanan kesehatan harus hadir langsung di tengah masyarakat melalui posko kesehatan dan layanan medis keliling,” kata Asep Romy.
Ia menekankan bahwa penanganan kabut asap tidak boleh berfokus pada upaya pemadaman titik api di lapangan semata tanpa menghiraukan krisis kesehatan publik. Distribusi masker berstandar respirator yang mampu menyaring partikel halus asap wajib disalurkan secara gratis dan merata kepada pekerja luar ruangan serta warga sekitar.
“Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta pekerja luar ruangan harus mendapatkan perhatian khusus karena paparan asap memperburuk kesehatan. Jangan menunggu kondisi mereka memburuk baru ada penanganan,” ucapnya.
Asep Romy meminta ruang evakuasi steril berpendingin udara (air conditioner) dan berpenyaring udara (air purifier) di tingkat kelurahan/desa segera diterapkan. Fasilitas perlindungan tersebut penting untuk menampung penderita asma dan lansia saat kepulan asap karhutla memuncak.
“Pemerintah daerah perlu menyiapkan ruang perlindungan aman dari asap bagi kelompok rentan di pemukiman warga. Langkah pencegahan dini harus diutamakan demi menyelamatkan nyawa masyarakat,” pungkasnya. (Efendi)












