OKU TIMUR, Barometer99.com — Memasuki bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, kewaspadaan publik terhadap potensi penyusupan paham radikal kembali mengemuka. Momen meningkatnya aktivitas keagamaan kerap dimanfaatkan kelompok tertentu untuk menyebarkan ideologi yang bertentangan dengan konstitusi, terutama melalui ruang digital dan forum kajian.
Peringatan itu disampaikan Imron, mantan pimpinan jaringan Negara Islam Indonesia (NII) Desa Batumas, OKU Timur, yang kini menjabat Ketua Pengurus Anak Ranting Muhammadiyah Desa Batu Mas, Kecamatan Belitang II.
Dengan tegas, Imron mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak lengah terhadap manuver kelompok yang memakai simbol keagamaan untuk menarik simpati.
“Biasanya penyusupan terjadi lewat forum diskusi. Mereka menampilkan tokoh yang tidak dikenal, tetapi memiliki pengaruh kuat. Nama kelompok tidak diungkapkan, sehingga anggota baru sering tidak sadar sudah masuk dalam jaringan,” ujar Imron, Rabu (25/02/2026).
Kelompok Usia 11–18 Tahun Paling Rentan
Imron menekankan bahwa kelompok usia remaja merupakan sasaran empuk penyebar paham radikal. Pada rentang usia tersebut, anak masih dalam fase pencarian jati diri sehingga rawan menerima narasi yang dibungkus secara persuasif.
“Usia 11 sampai 18 tahun itu sangat rentan. Karena itu pengawasan orang tua sangat penting. Anak-anak mudah dipengaruhi hal-hal yang belum mereka pahami sepenuhnya,” jelasnya.
Ia juga meminta masyarakat untuk tidak ragu melapor atau berkoordinasi dengan pihak berwenang apabila menemukan aktivitas kelompok yang mencurigakan di lingkungan sekitar.
Pendekatan Humanis Polri Jadi Kunci
Dalam kesempatan itu, Imron membagikan kisah perjalanannya hingga kembali ke pangkuan ideologi negara. Ia menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan aparat kepolisian — mulai dari tingkat Polda hingga Polres — jauh dari gambaran represif yang sering didoktrinkan dalam kelompok radikal.
“Kami dulu didoktrin bahwa aparat akan menggunakan pendekatan keras. Tapi yang kami alami justru pembinaan yang humanis dan komunikatif. Itulah yang mengubah pandangan kami,” kata Imron.
Menurutnya, pola penanganan berbasis presisi dan kemanusiaan terbukti efektif dalam merangkul individu yang pernah terpapar paham menyimpang.
Ia berharap pendekatan tersebut terus dipertahankan sebagaimana arahan pimpinan Muhammadiyah, agar tidak menimbulkan ketegangan baru.
“Pendekatan yang sekarang sudah tepat — presisi dan humanis. Jika arah ini berubah, kami khawatir justru memunculkan konflik baru,” tegasnya.
Imbauan Kewaspadaan Kolektif Selama Ramadhan
Dengan meningkatnya aktivitas keagamaan selama Ramadhan, Imron mengajak masyarakat memperkuat kewaspadaan kolektif agar ruang ibadah dan lingkungan sosial tetap steril dari infiltrasi paham yang dapat mengancam persatuan bangsa.












