Jejak Prabowo di Pasukan Baret Merah: Pernah Pimpin Kopassus, Mengenal Operasi Sandi Yudha
JAKARTA, Barometer99.com — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memiliki perjalanan panjang di dunia militer, khususnya bersama pasukan elite TNI Angkatan Darat, Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Sebelum memasuki dunia politik dan akhirnya menjadi Presiden ke-8 Republik Indonesia, Prabowo pernah mengemban sejumlah jabatan penting di lingkungan pasukan baret merah tersebut.
Karier militernya dimulai setelah menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer pada 1974. Dua tahun kemudian, Prabowo bergabung dengan Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), yang merupakan cikal bakal Kopassus saat ini.
Pada 1976, ia dipercaya menjadi Komandan Peleton Para Komando Grup I Kopassandha. Setahun berikutnya, ia menjabat Komandan Kompi Para Komando Grup I.
Perjalanan kariernya berlanjut ke Detasemen 81, satuan penanggulangan teror yang kemudian berkembang menjadi Satuan-81 Gultor Kopassus. Prabowo pernah menjabat Wakil Komandan Detasemen 81 pada periode 1983–1985.
Setelah menjalani sejumlah penugasan di lingkungan TNI AD, Prabowo kembali menduduki jabatan strategis di Kopassus. Pada 1993, ia dipercaya menjadi Komandan Grup 3/Pusat Pendidikan Pasukan Khusus, kemudian menjabat Wakil Komandan Kopassus pada 1994.
Puncak kariernya di korps baret merah terjadi ketika ia dipercaya menjadi Komandan Jenderal Kopassus pada 1996 hingga 1998. Setelah itu, pada 1998, Prabowo menjabat Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).
MENGENAL OPERASI SANDI YUDHA
Salah satu kemampuan khusus yang dikenal dalam lingkungan Kopassus adalah Sandi Yudha. Istilah ini berkaitan dengan operasi khusus dan perang nonkonvensional, termasuk kegiatan yang membutuhkan kemampuan pengintaian, pengumpulan informasi, infiltrasi, serta operasi secara tertutup.
Dalam karakter operasi semacam ini, kemampuan membaca situasi, memahami kondisi wilayah, mengidentifikasi potensi ancaman, dan mengumpulkan informasi menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan tugas.
Sandi Yudha juga memiliki kaitan historis dengan perjalanan pasukan khusus Indonesia. Literatur mengenai operasi Sandi Yudha, termasuk karya Jenderal TNI (Purn.) A.M. Hendropriyono, membahas penerapan taktik perang nonkonvensional dan operasi menghadapi gerakan klandestin.
Sementara itu, profil resmi Kopassus menjelaskan bahwa tugas pasukan khusus tersebut mencakup operasi militer perang, termasuk operasi intelijen khusus untuk mengumpulkan informasi rahasia di wilayah lawan.
Kopassus juga memiliki kemampuan operasi komando dan antiteror yang menjadi bagian dari karakter tugas pasukan khusus TNI AD.
DARI DUNIA MILITER KE KEPRESIDENAN
Perjalanan Prabowo di Kopassus menjadi salah satu bagian penting dari rekam jejaknya sebelum memasuki pemerintahan. Setelah mengakhiri karier militernya pada 1998, ia kemudian menekuni dunia usaha dan politik.
Pada 2024, Prabowo terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia dan dilantik pada 20 Oktober 2024 untuk masa jabatan 2024–2029.
Dengan demikian, perjalanan Prabowo tidak hanya mencatat pengalaman sebagai perwira TNI AD, tetapi juga pernah memimpin satuan elite Kopassus sebelum beralih ke panggung politik nasional.
Riwayat tersebut memperlihatkan hubungan panjang Prabowo dengan korps baret merah, mulai dari masa Kopassandha hingga dipercaya menjadi Danjen Kopassus.
Itulah bagian dari perjalanan militer Presiden Prabowo Subianto yang tercatat dalam berbagai sumber sejarah dan profil resmi.












