Umum  

Black Stone Airline Tambah Dua Armada, Bamsoet Dorong Penerbangan Kargo Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi dan Hilirisasi Industri

 Bamsoet Dorong Penerbangan Kargo Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi dan Hilirisasi Industri

JAKARTA, Barometer99.com — Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan pendiri PT Raffles Global Angkasa (RGA) – pemilik armada kargo Black Stone Airline, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menilai bisnis penerbangan kargo memiliki prospek besar untuk menjadi salah satu motor baru pertumbuhan ekonomi nasional, seiring meningkatnya kebutuhan distribusi barang bernilai tinggi, perdagangan elektronik, ekspor manufaktur, hingga pengembangan kawasan industri di berbagai daerah. Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan membuat konektivitas udara memiliki nilai strategis, terutama untuk mengangkut barang yang membutuhkan kecepatan, ketepatan waktu, keamanan, serta pengendalian suhu. Data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mencatat volume kargo angkutan udara Indonesia mencapai sekitar 1,47 miliar kilogram sepanjang tahun 2025. Hingga 23 September 2026, data berjalan telah mencapai sekitar 1,14 miliar kilogram. Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar angkutan udara memiliki basis permintaan yang besar, meskipun ruang pertumbuhannya masih terbuka lebar.

“Indonesia perlu melihat penerbangan kargo sebagai bagian strategis dari infrastruktur ekonomi, bukan semata-mata sebagai bisnis transportasi. Kita membutuhkan jaringan kargo udara yang mampu menghubungkan kawasan produksi dengan pasar domestik dan internasional secara cepat, efisien, serta terintegrasi dengan pelabuhan, jalan tol, kereta api, pergudangan dan kawasan industri. Kalau konektivitas barang kita semakin kuat, biaya logistik bisa ditekan dan daya saing produk Indonesia ikut meningkat,” ujar Bamsoet saat melakukan penandatanganan kerjasama penambahan dua armada pesawat kargo antara Raffles Global Angkasa (RGA) dengan Bank Mandiri, di Kantor Pusat RGA-Black Stone Airlines, JB Tower Kebon Sirih, Jakarta,, Kamis (24/9/26).

Penambahan dua pesawat BOEING 737-800SF dalam rangka memperkuat armada kargo udara nasional Black Stone Airlines, dari enam pesawat yang sudah beroperasi sejak 2022.

Baca Juga :  Rakernas PORLASI 2026 Perkuat Konsolidasi OrganisasiI Menuju Prestasi Layar Internasional

Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menjelaskan, tantangan terbesar industri penerbangan kargo Indonesia adalah menciptakan ekosistem yang membuat angkutan udara kompetitif dibandingkan moda laut dan darat. Data Badan Pusat Statistik mencatat sepanjang Januari-Desember 2025, barang yang diangkut melalui angkutan udara domestik mencapai 671,1 ribu ton. Angka tersebut relatif tidak berubah dibandingkan tahun 2024, hanya naik sekitar 0,01 persen. Pada Desember 2025, angkutan udara domestik bahkan mencatat 57 ribu ton barang, naik 4,97 persen secara tahunan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa potensi pasar memang besar, tetapi pertumbuhan bisnis kargo udara membutuhkan efisiensi biaya, kepastian jadwal, fasilitas pergudangan, layanan ground handling, serta koneksi antarmoda yang lebih baik.

“Yang dibutuhkan industri adalah konsep dari pintu pabrik sampai pintu konsumen atau pasar ekspor. Pesawat kargo harus terkoneksi dengan pusat produksi, kawasan industri, fulfillment center, gudang berikat, pelabuhan dan jaringan distribusi. Dengan begitu, kargo udara menjadi bagian dari rantai pasok, bukan sekadar alat memindahkan barang dari satu bandara ke bandara lain,” kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menuturkan, perubahan struktur industri Indonesia akan menciptakan jenis permintaan baru bagi penerbangan kargo. Hilirisasi mineral, farmasi, produk elektronik, komponen otomotif, high-tech manufacturing, hasil perikanan segar dan produk pertanian bernilai tinggi membutuhkan sistem logistik yang lebih cepat. Dalam kondisi seperti itu, ukuran keberhasilan industri kargo udara tidak semata-mata dihitung dari jumlah tonase, tetapi juga dari nilai ekonomi barang yang diangkut. Produk dengan nilai tinggi dan sensitif terhadap waktu dapat memberikan yield yang lebih baik bagi operator dibandingkan komoditas berukuran besar namun bernilai rendah.

Baca Juga :  Babinsa Berbah Sleman Bersama Masyarakat Tanam Pohon Konservasi Air

“Hilirisasi jangan berhenti ketika bahan mentah sudah berubah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Kita harus memastikan produk tersebut bisa bergerak cepat menuju pasar. Misalnya komponen elektronik, perangkat industri, produk farmasi, suku cadang kendaraan, sampai produk perikanan segar. Untuk barang seperti itu, waktu adalah bagian dari nilai ekonomi. Di sinilah penerbangan kargo memiliki keunggulan yang sulit digantikan moda lain,” tutur Bamsoet.

Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI dan Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menambahkan, pengembangan kargo udara juga harus diarahkan untuk membangun pusat-pusat logistik udara baru di luar Pulau Jawa. Indonesia memiliki banyak sentra produksi komoditas unggulan, kawasan industri, destinasi pariwisata dan wilayah kepulauan yang membutuhkan konektivitas cepat. Bandara di kawasan seperti Batam, Balikpapan, Makassar, Manado, Denpasar dan Papua dapat dikembangkan sesuai karakteristik pasarnya masing-masing. Kehadiran pesawat kargo berbadan kecil hingga menengah juga dapat menjadi solusi untuk menjangkau wilayah dengan volume muatan yang belum cukup besar bagi pesawat kargo berbadan lebar. Bahkan data registrasi pesawat sipil tahun 2026 menunjukkan keberadaan sejumlah operator dengan pesawat yang digunakan untuk kebutuhan kargo dan distribusi regional, termasuk Boeing 737-300F serta berbagai pesawat turboprop.

“Kita membutuhkan model bisnis yang fleksibel. Tidak semua daerah membutuhkan pesawat kargo berbadan besar. Untuk Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi atau kawasan kepulauan lainnya, pesawat berkapasitas lebih kecil bisa menjadi penghubung dari sentra produksi menuju hub utama. Dari sana barang dapat diteruskan ke Jakarta, Singapura, Kuala Lumpur, Hong Kong, Shanghai atau pusat perdagangan lainnya. Konsep hub and spoke seperti ini harus dikembangkan secara serius,” pungkas Bamsoet. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *