BPS vs Bank Dunia: Mengapa Angka Kemiskinan Indonesia Terlihat Berbeda Jauh?
JAKARTA, Barometer99.com — Perbedaan mencolok sering kali ditemukan ketika membandingkan data angka kemiskinan di Indonesia antara versi Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Dunia. BPS mencatat angka kemiskinan Indonesia sebesar 8,07 persen, sementara Bank Dunia menyebutkan bahwa 64,2 persen penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan.
Perbedaan yang sangat jauh ini bukan diakibatkan oleh salah hitung, melainkan karena patokan dan standar pengukuran yang digunakan memang berbeda.
BPS mengukur kemiskinan berdasarkan kebutuhan hidup serta tingkat harga riil yang ada di dalam negeri. Garis kemiskinan nasional dipatok sebesar Rp669.235 per orang setiap bulannya. Artinya, seseorang baru akan masuk dalam perhitungan penduduk miskin versi BPS jika pendapatan dan pengeluarannya berada di bawah angka tersebut. Data dari BPS ini digunakan untuk melihat kondisi riil kemiskinan dalam konteks domestik serta menjadi acuan utama pemerintah dalam merumuskan kebijakan di dalam negeri.
Di sisi lain, Bank Dunia menggunakan standar internasional yang seragam agar kondisi kesejahteraan bisa dibandingkan antarnetara di seluruh dunia. Standar ini dikelompokkan berdasarkan kategori pendapatan perorangan per hari, yakni US3,00 untuk negara berpendapatan rendah, US4,20 untuk negara berpendapatan menengah bawah, serta US$8,30 untuk negara berpendapatan menengah atas.
Karena Indonesia saat ini telah masuk dalam kelompok negara berpendapatan menengah atas, standar garis kemiskinan yang dikenakan oleh Bank Dunia menjadi jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan ukuran lokal BPS. Akibatnya, persentase penduduk yang berada di bawah standar internasional tersebut terlihat jauh lebih besar.
Pada akhirnya, kedua angka tersebut sama-sama benar namun menjawab pertanyaan yang berbeda. BPS memotret kemiskinan untuk kebutuhan kebijakan lokal, sementara Bank Dunia memotretnya untuk perbandingan standar hidup antarnegara di kancah global. Kedua sumber data ini memberikan gambaran yang berbeda namun saling melengkapi dalam memahami potret kesejahteraan masyarakat di Indonesia.












