Oleh: Dr. Ir. P.A. Rangkuti MSi
Barometer99.com – Sejak siswa Sekolah Rakyat (SR), kini menjadi Sekolah Dasar (SR) hingga saat menjadi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 1965, saya adalah pengagum Ir Soekarno (Bung Karno) sebagai Presiden RI pertama. Saya mendapat pelajaran sejarah bagaimana generasi Bung Karno berjuang saling mendukung mencapai kemerdekaan dan mempertahankannya dengan semangat kebangsaan dan jiwa patriotisme yang memperkokoh persatuan dan pantang menyerah. Tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan tampil maju bersama merebut kemerdekaan dan mereka dikenang sebagai pahlawan bangsa yang telah menghiasi bumi pertiwi. Pasca kemerdekaan Bung Karno selalu tampil berpidato bergema di ruang publik telah memberi semangat bagi rakyat Indonesia untuk meraih kejayaan dan menjamin keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Bung Karno telah berhasil mempersatukan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat serta menempatkan NKRI sebagai pelopor penggalangan kebangkitan negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin untuk merdeka dan maju bersama melawan kolonialisme dan kapitalisme. Lahir negara-negara non-block dan kekuatan baru dunia (New Emerging Forces/ NEFO), yang ingin mempertahankan kedaulatan dan memperjuangkan keadilan sosial serta menentang penghisapan bangsa oleh bangsa lainnya. Identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa pejuang berjiwa kebangsaan dan sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat tumbuh dengan semangat bergelora untuk maju di tengah-tengah bangsa-bangsa lainnya secara damai dan bertumpu kepada kekuatan sendiri.
Ketika terjadi peristiwa (G30S) tahun 1965, jiwa saya sebagai pengagum Bung Karno mulai tergerus dan secara perlahan bergeser mengagumi Jenderal Soeharto (Pak Harto) yang mampu mengendalikan keamanan dan berani membubarkan PKI yang dianggap sebagai dalang dari peristiwa G30S yang terjadi saat itu. Ketika menjadi mahasiswa di IPB (Institut Pertanian Bogor) tahun 1967, kekaguman kepada Pak Harto semakin meningkat saat Bung Karno mengeluarkan Super Semar (Surat Perintah 11 Maret 1967), yang menjadi tonggak lahirnya Orde Baru sebagai peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Suasana kampus dan juga masyarakat menyambut gembira dengan harapan akan lahir era baru yang membawa bangsa ini lebih demokratis, sejahtera dan lebih berkeadilan.
Sidang MPRS tanggal 28 Maret 1968, secara resmi menetapkan Pak Harto menjadi Presiden RI. Setelah lulus dari IPB tahun 1973, saya menjadi dosen tetap dan juga menjadi dosen mata kuliah Kewiraan yang kemudian menjadi mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), bahkan aktif dalam program P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) sebagai penatar tingkat nasional. Sebagai aktivis mahasiswa dan juga organisasi sosial kemasyarakatan, mendapat kesempatan menjadi anggota MPR/DPR dari Golongan Karya (GOLKAR) periode 1992-1997. Dipenghujung masa jabatan Presiden Soeharto selama 32 tahun, terjadi krisis moneter dan keuangan yang menimbulkan gejolak besar-besaran menuntut Pak Harto turun. Akhirnya Presiden Soeharto menyatakan mundur pada tanggal 21 Mei 1998 dan digantikan oleh Prof. Habibie.
Sejak tahun 1998 mulai bergulir era reformasi dengan berbagai perubahan yang sangat mendasar terutama adanya Amandemen UUD 1945 sebanyak empat kali tahun 1999 hingga 2002, dan terjadi perubahan ketatanegaraan yang luar biasa. Setelah era reformasi berlangsung hingga saat ini (2026), menunjukkan bahwa harapan perubahan ke arah yang lebih demokrastis, sejahtera dan berkeadilan masih jauh dari harapan. Berbagai tuntutan mulai muncul melalui beragam cara atau gerakan yang sudah menghawatirkan masa depan NKRI. Keresahan semakin meningkat dipicu oleh perkembangan geopolitik yang semakin menekan kondisi politik dan ekonomi dalam negeri. Sebagai warga negara yang cinta Indonesia, dan sebagai pengagum Bung Karno dan Pak Harto saya mencoba memberikan pandangan barangkali ada manfaatnya.
Bung Karno dan Pak Harto diakhir masa jabatannya sebagai Presiden mengalami nasib yang sama dituntut mundur oleh rakyat yang dicintainya dan pada awalnya sangat mencintainya. Sosok Bung Karno dan Pak Harto dua tokoh besar telah memberi kontribusi yang luar biasa bagi negeri ini. Bung Karno dan Pak Harto masing-masing mempunyai keunggulan dan kekurangan layaknya sebagai manusia yang tidak ada yang sempurna. Saat menyaksikan peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026, di Gedung Pancasila Jakarta, hati saja terusik saat menyaksikan dua sosok anak bangsa yakni Prabowo sebagai Presiden dan Megawati Soekarno Putri mantan Presiden ke- 5 beriringan memasuki tempat upacara dan bercanda ria setelah upacara selesai. Memori di otak saya mengingat masa Orde lama yang dipimpin oleh Bung Karno dan Orde Baru yang dipimpin oleh Pak Harto, masing-masing sekitar 30 tahun. Sangatlah indahnya bangsa ini jika potensi kekuatan besar Orde Lama dan Orde Baru di masa lalu, menjadi bahan untuk mempersatukan kelebihan masing-masing dan mengubur dalam-dalam kelemahan masing-masing untuk membangun kekuatan baru yang berbasis murni dan konsekwen kepada nilai-nilai Pancasila dan cita-cita kemerdekaan.
Jika penampilan dua sosok anak bangsa ini, dapat diargumentasikan sebagai tanda-tanda zaman terjadinya rekonsiliasi Orde lama dengan Orde Baru tanpa PKI, dengan dukungan rakyat dan TNI akan merupakan kekuatan baru bangsa dan negara Indonesia yang tiada tandingannya. Kekuatan baru ini dapat menjadi potensi bagi generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan bangsa ke masa depan yang semakin penuh dengan tantangan. Berbagai kelemahan dan luka-luka konflik politik masa lalu dijadikan sebagai pelajaran untuk tidak ikut diwariskan kepada generasi penerus. Saatnya tokoh-tokoh generasi Orde Lama dan Orde Baru serta Generasi Muda duduk bersama merumuskan formula yang tepat membangun kekuatan baru untuk mencapai cita-cita kemerdekaan meliputi; kedaulatan negara yang semakin kokoh, lahirnya bangsa yang semakin cerdas profesional dan kehidupan masyarakat yang semakin sejahtera lahir dan bathin ditengah-tengah perdamaian dunia sebagai energi baru bagi generasi penerus untuk bangkit ikut serta menjaga, melindungi, membangun, dan menjamin NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam rangka bela negara meraih kejayaan bangsa dan negara sebagai harapan seluruh rakyat Indonesia. Semoga.
Bogor, awal Juni 2026. .












