Tiga Kakek di Balik Jalan Baru Desa Bulu Lor
Ponorogo, Barometer99.com — Di tengah semangat para prajurit TNI yang tak mengenal lelah, tangan-tangan renta itu tak tinggal diam. Satu per satu paving block dipindahkan, pasir diratakan, dan kerikil kecil disingkirkan dari jalan yang kelak menjadi jawaban atas doa-doa mereka selama puluhan tahun.
Mereka adalah Miskun (82), Kusir (75), dan Boimin (72), ketiganya warga Dusun Ngipik, Desa Bulu Lor, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo. Usia yang bagi banyak orang identik dengan masa istirahat justru mereka jawab dengan bekerja. Bukan karena diminta, melainkan karena merasa memiliki jalan yang sedang dibangun di kampung mereka sendiri.
Ketiganya sadar tenaga mereka tak lagi sekuat dulu. Karena itu, mereka memilih pekerjaan yang lebih ringan, yakni mendekatkan paving block ke titik pemasangan, meratakan dasar pasir dengan cangkul kecil, dan membersihkan kerikil yang bisa menghambat proses pemasangan.
Di sela-sela pekerjaan, tawa pecah berkali-kali. Para sesepuh Dusun Ngipik itu bercanda dengan para prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas TMMD ke-129 Kodim 0802/Ponorogo yang sebagian besar berusia jauh lebih muda. Perbedaan generasi justru menjadi perekat suasana gotong royong yang hangat.
“Ngiih niki rahasia kulo awet sehat, guyon kaliyan lare enem-enem (Iya, ini rahasia saya tetap sehat, bercanda dengan anak-anak muda),” kata Miskun kepada para prajurit sambil tertawa, Sabtu (8/8/2026).
Baginya, tubuh harus tetap bergerak, keringat harus tetap keluar, dan senyum harus terus dibagikan.
“Sing penting obah, metu kringet, lan mesem ngguyu bareng kancane, rasane awak dadi luwih penak lan mengko bengi turune iso angler (Yang penting bergerak, keluar keringat, dan bisa tersenyum serta tertawa bersama teman-teman, rasanya badan jadi lebih segar dan nanti malam tidurnya bisa nyenyak),” ujarnya.
Bagi Miskun, Kusir, dan Boimin, TMMD bukan sekadar proyek pembangunan. Jalan yang sedang dipasang itu kelak akan dilalui anak-cucu mereka, menjadi jalur hasil panen, menghubungkan tetangga, dan mempermudah kehidupan warga Bulu Lor. Karena itu, menurut mereka, sudah sewajarnya setiap orang ikut mengambil bagian sesuai kemampuannya.
Danrem 081/DSJ Kolonel Arm Untoro Hariyanto mengaku kagum atas antusiasme warga, terutama para lansia yang tetap ingin terlibat. Menurutnya, keberhasilan TMMD tidak hanya diukur dari panjang jalan yang selesai dibangun, tetapi juga dari tumbuhnya rasa memiliki masyarakat terhadap hasil pembangunan tersebut.
“Yang paling membahagiakan adalah ketika warga merasa pembangunan ini milik mereka. Kehadiran para lansia yang tetap turun ke lokasi menjadi contoh bahwa gotong royong masih hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi,” jelasnya.
Menurut dia, pembangunan yang dikerjakan secara bersama-sama akan meninggalkan nilai yang jauh lebih besar daripada hasil fisiknya. Jalan memang akan mempermudah akses warga, tetapi semangat kebersamaan yang tumbuh selama proses pembangunan merupakan warisan yang akan bertahan lebih lama.
“TMMD tidak hanya membangun jalan, jembatan, atau fasilitas lainnya. Yang kami bangun juga adalah semangat persatuan, kepedulian, dan kemanunggalan antara TNI dan masyarakat,” tegas Danrem.
Di Desa Bulu Lor, pembangunan jalan memang menjadi kebutuhan mendasar. Selama bertahun-tahun, akses jalan yang layak menjadi harapan yang terus dibicarakan warga. Kini, melalui program TMMD ke-129, harapan itu mulai terwujud sedikit demi sedikit.
Kelak, ketika jalan poros Desa Bulu Lor telah selesai dan kendaraan melintas tanpa hambatan, mungkin tak banyak orang yang mengetahui bahwa di antara susunan paving block itu pernah ada sentuhan tangan tiga kakek yang menolak kalah oleh usia. Namun bagi warga Ngipik, kisah Miskun, Kusir, dan Boimin akan tetap menjadi bagian dari cerita tentang bagaimana sebuah jalan dibangun bukan hanya dengan paving block dan pasir, melainkan juga dengan semangat, tawa, dan cinta pada desa sendiri.












