Kapolri Turun ke Pidie, Laboratorium Sabu 1,2 Ton Terbongkar, 11 Orang Ditangkap
PIDIE, Barometer99.com – Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto meninjau langsung pengungkapan laboratorium narkotika ilegal di Kabupaten Pidie, Aceh, yang diduga menjadi tempat pengolahan sabu dalam skala besar. Dalam operasi gabungan tersebut, aparat menyita barang bukti narkotika dengan berat bruto sekitar 1,2 ton dan mengamankan 11 orang yang diduga terlibat.
Peninjauan dilakukan pada Jumat (23/10/2026), setelah aparat gabungan mengungkap laboratorium gelap tersebut dalam operasi yang berlangsung pada Rabu (21/10/2026). Pengungkapan ini melibatkan Badan Narkotika Nasional (BNN), Polri, serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Operasi dilakukan di sejumlah lokasi yang tersebar di Kabupaten Pidie, Bireuen, Aceh Utara, dan Kota Lhokseumawe. Salah satu lokasi utama yang menjadi perhatian petugas berada di sebuah bangunan toko di Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, yang diduga digunakan sebagai tempat pengolahan narkotika.
Dari lokasi tersebut, petugas menemukan 20 drum berisi cairan metamfetamina atau meth oil serta sekitar 500 kilogram sabu berbentuk kristal. Barang bukti itu diduga berkaitan dengan aktivitas pengolahan narkotika cair menjadi sabu siap edar. Secara keseluruhan, barang bukti yang disita dalam operasi tersebut mencapai sekitar 1,2 ton berdasarkan berat bruto.
Sebanyak 11 orang turut diamankan dalam pengungkapan ini. Mereka terdiri atas sembilan warga negara Indonesia dan dua warga negara China yang diduga memiliki keahlian kimia serta berperan dalam proses pengolahan narkotika. Namun, penyidik masih mendalami peran masing-masing orang untuk memastikan keterlibatan mereka dalam aktivitas laboratorium tersebut.
Kapolri menegaskan bahwa pengungkapan ini menjadi pintu masuk untuk membongkar jaringan narkotika yang diduga memiliki keterkaitan lintas negara. Penyelidikan tidak hanya difokuskan pada lokasi produksi, tetapi juga mencakup penelusuran asal bahan baku, jalur pengiriman, pihak yang menyediakan fasilitas, hingga jaringan yang diduga mengendalikan operasional laboratorium.
Aparat juga masih memburu sejumlah orang yang diduga terlibat dan masuk dalam daftar pencarian orang. Selain memeriksa keterangan para terduga pelaku, penyidik mendalami barang bukti elektronik, termasuk telepon genggam, untuk menelusuri komunikasi serta kemungkinan hubungan dengan jaringan narkotika di luar negeri.
Koordinasi dengan otoritas negara lain turut dilakukan guna mengungkap pihak-pihak yang diduga menjadi pengendali jaringan. Penyidik juga menelusuri kemungkinan aliran dana yang berkaitan dengan aktivitas tersebut, termasuk dugaan tindak pidana pencucian uang.
Pengungkapan laboratorium narkotika di Pidie menjadi perhatian serius karena memperlihatkan dugaan adanya aktivitas pengolahan sabu dalam jumlah besar di wilayah Aceh. Jika seluruh dugaan tersebut terbukti melalui proses penyidikan dan persidangan, kasus ini dapat mengungkap mata rantai kejahatan yang lebih luas, mulai dari penyediaan bahan baku hingga distribusi narkotika.
Kapolri mengapresiasi kerja sama antarlembaga dalam membongkar laboratorium ilegal tersebut. Sinergi Polri, BNN, dan Bea Cukai dinilai penting untuk mempersempit ruang gerak jaringan narkotika yang memanfaatkan berbagai wilayah sebagai tempat produksi maupun jalur peredaran.
Saat ini, penyidik masih terus mengembangkan kasus untuk mengungkap seluruh pihak yang terlibat dan memastikan jalur distribusi narkotika tersebut dapat diputus. Aparat juga mengajak masyarakat berperan aktif melaporkan aktivitas mencurigakan di lingkungan masing-masing sebagai bagian dari upaya bersama memerangi peredaran narkoba.
Pengungkapan ini menegaskan bahwa pemberantasan narkotika membutuhkan penindakan tegas, penyelidikan mendalam, serta kerja sama lintas lembaga dan lintas negara agar jaringan yang berada di balik produksi dan peredaran narkoba dapat diungkap hingga ke akar-akarnya.












