Umum  

Gus Faris Dukung Kiai Said Jadi Rais Aam, NU Butuh Pemimpin Alim, Visioner, dan Kritis

Gus Faris Dukung Kiai Said Jadi Rais Aam, NU Butuh Pemimpin Alim, Visioner, dan Kritis

Jombang. Barometer99.com — Pengasuh Pondok Pesantren Nadwatul Ummah Buntet, KH Faris Fuad Hasyim atau Gus Faris, menyatakan dukungannya kepada KH Said Aqil Siroj untuk menjadi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

Menurut Gus Faris, NU membutuhkan sosok pemimpin seperti KH Said Aqil Siroj yang tidak menjadikan kepemimpinan organisasi sebagai ruang untuk sibuk dengan kepentingan pribadi maupun konsolidasi kekuasaan. Bukan pula sibuk saling pecah dan memecah.

Ia menilai KH Said Aqil merupakan sosok yang memiliki keberanian untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah apabila dinilai tidak berpihak kepada kepentingan rakyat.

“Kiai Said juga berani mengkritik kebijakan pemerintah ketika tidak berpihak kepada rakyat. Kritik itu tidak mengurangi kecintaan kepada bangsa dan negara,” ujarnya dalam Forum Mimbar Muktamar NU dengan tema Mencari Rais Aam Ideal. Siapa Sosok yang Paling Layak? di Ponpes Al-Maliki 2, Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. Jum’at (28/08/2026).

Gus Faris juga menilai KH Said Aqil memiliki kapasitas keilmuan, visioner, yaitu memiliki visi yang kuat untuk membawa NU menghadapi berbagai tantangan zaman.

Ia kemudian mengingat kembali kepemimpinan KH Said Aqil Siroj ketika menjabat sebagai Ketua Umum PBNU. Menurut Gus Faris, pada masa tersebut NU mampu tampil sebagai organisasi yang memiliki daya tarik kuat di tengah masyarakat.

“Ketika beliau menjadi Ketua Umum PBNU, NU ini seperti kembali ke zamannya KH A. Wahab Hasbullah. NU menjadi organisasi yang sangat enak diceritakan oleh masyarakat. NU menjadi organisasi yang betul-betul dikagumi oleh banyak orang,” tuturnya.

Baca Juga :  Wisuda 380 Perwira Remaja, Kasad: Gelar Akademik Bukan Tujuan Akhir

Gus Faris mengatakan salah satu gagasan penting yang melekat pada pemikiran KH Said Aqil adalah konsep Islam Nusantara. Menurutnya, gagasan tersebut memperkuat kesadaran warga Indonesia bahwa kehidupan beragama tidak dapat dipisahkan dari konsensus kebangsaan yang telah menjadi fondasi kehidupan bernegara.

Ia menambahkan, konsensus kebangsaan tersebut harus dihormati baik dalam perspektif kehidupan beragama maupun dalam kerangka hukum negara. Menurutnya, ketika terdapat pihak yang mengingkari konsensus kebangsaan, terdapat konsekuensi yang harus dihadapi.

“Ketika kita mengingkari konsensus kebangsaan, maka NU memandang bahwa ada konsekuensi yang harus diterima, baik dalam konteks hukum agama maupun hukum negara,” katanya.

Gus Faris menilai sikap tersebut terlihat dalam perjalanan NU pada masa kepemimpinan KH Said Aqil Siroj. Menurut dia, terdapat penegasan posisi antara kelompok yang menerima Pancasila sebagai konsensus kebangsaan dengan kelompok yang menolaknya.

Gus Faris menilai gagasan Islam Nusantara tidak hanya berbicara mengenai relasi antara Islam dan negara, tetapi juga menempatkan budaya masyarakat sebagai bagian penting dalam kehidupan kebangsaan. (Efendi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *