Rekam Jejak Suyudi Ario Seto Berantas Narkoba, 53 Kampung Disasar dan 1.259 Orang Ditangkap
JAKARTA , Barometer99.com — Komitmen pemberantasan narkotika menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto saat memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN). Salah satu langkah besar yang dilakukan pada November 2025 adalah operasi terpadu untuk memberantas peredaran narkoba di puluhan kawasan rawan narkotika di berbagai wilayah Indonesia.
Operasi yang berlangsung pada 5–7 November 2025 tersebut menyasar 53 kampung narkoba yang tersebar di 34 provinsi. Dalam pelaksanaannya, BNN bersama jajaran terkait berhasil mengamankan 1.259 orang yang diduga terlibat dalam aktivitas peredaran narkotika.
Pengungkapan itu juga menghasilkan penyitaan barang bukti dalam jumlah besar. Petugas mengamankan sabu seberat 126.325,72 gram, ganja sebanyak 126,32 kilogram, 1.428 butir pil ekstasi, serta uang tunai senilai Rp1,5 miliar.
Operasi tersebut menjadi bagian dari upaya memutus mata rantai peredaran narkotika, khususnya di kawasan yang selama ini dikenal sebagai titik rawan transaksi dan penyalahgunaan narkoba.
Namun, bagi Suyudi, penanganan persoalan narkotika tidak cukup hanya mengandalkan penindakan hukum. Diperlukan pula langkah berkelanjutan melalui rehabilitasi, pemberdayaan masyarakat, dan program pencegahan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Ia berharap operasi tersebut menjadi pintu masuk bagi pelaksanaan program pemulihan kawasan rawan narkoba dengan dukungan pemerintah daerah serta partisipasi masyarakat.
Pelibatan berbagai pihak dinilai penting agar penanganan persoalan narkotika tidak berhenti setelah penggerebekan dilakukan. Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan juga perlu mendapatkan pendampingan dan kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik tanpa ketergantungan pada aktivitas ilegal.
Kampung Bahari Jadi Salah Satu Sasaran Operasi
Salah satu lokasi yang menjadi sasaran operasi adalah Kampung Bahari, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kawasan tersebut telah lama mendapat sorotan karena stigma sebagai salah satu titik rawan peredaran narkotika.
Dalam operasi yang berlangsung selama dua hari di lokasi tersebut, petugas mengamankan 18 orang. Barang bukti yang disita meliputi sabu seberat 159,17 gram, ganja 38,84 gram, dan 52 butir ekstasi.
Petugas juga menyita empat timbangan digital, 16 alat isap atau bong, satu unit sepeda motor, serta uang tunai sebesar Rp7,6 juta.
Pengungkapan di Kampung Bahari tidak berhenti sampai di situ. Dua hari kemudian, BNN kembali melakukan penggerebekan di kawasan tersebut dan mengamankan sembilan orang.
Dalam operasi lanjutan itu, petugas menyita sabu seberat 89.159,42 gram atau sekitar 89,16 kilogram, ganja seberat 91,53 gram, serta 159 butir ekstasi.
Besarnya barang bukti yang ditemukan dalam rangkaian operasi tersebut menunjukkan bahwa kawasan rawan narkotika membutuhkan penanganan yang konsisten, baik melalui penegakan hukum maupun program pencegahan dan pemulihan sosial.
Penindakan Harus Diikuti Pencegahan Berkelanjutan
Dalam keterangannya, Suyudi menekankan bahwa operasi pemberantasan narkotika di kawasan rawan diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat rehabilitasi, pemberdayaan masyarakat, dan pencegahan secara berkelanjutan.
Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pihak agar masyarakat dapat terbebas dari pengaruh buruk narkotika.
Pendekatan tersebut menempatkan pemberantasan narkoba tidak hanya sebagai persoalan penangkapan pelaku dan penyitaan barang bukti, tetapi juga sebagai upaya melindungi masyarakat dari dampak sosial yang ditimbulkan oleh peredaran gelap narkotika.
Dengan keterlibatan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan masyarakat, kawasan yang selama ini dikenal rawan diharapkan dapat berangsur pulih dan tidak kembali menjadi pusat aktivitas peredaran narkoba.
Rekam jejak operasi tersebut menjadi bagian dari catatan penanganan narkotika pada masa kepemimpinan Suyudi di BNN. Upaya pemberantasan yang disertai rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat diharapkan dapat memperkuat perlindungan terhadap generasi muda serta menciptakan lingkungan yang lebih aman dari ancaman narkotika.*












