Masuk Era Industri 5.0, USK Ditantang Ubah Potensi Aceh Jadi Keunggulan dan Inovasi
BANDA ACEH, Barometer99.com— Perubahan zaman yang berlangsung cepat menuntut perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga mampu menjadi penggerak inovasi, teknologi, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Hal itu disampaikan Safrizal saat menyoroti tantangan yang dihadapi Universitas Syiah Kuala (USK) dalam menghadapi perubahan peradaban dan memasuki era Industri 5.0.
Menurutnya, sumber keunggulan suatu bangsa terus mengalami perubahan seiring evolusi peradaban dan revolusi industri. Pada era Industri 1.0, keunggulan banyak bertumpu pada sumber daya alam. Kemudian memasuki Industri 2.0, mesin dan sumber daya alam menjadi bagian penting dari modal produksi.
Sementara pada era Industri 4.0, sumber keunggulan semakin bergeser kepada penguasaan teknologi seperti artificial intelligence (AI), internet of things (IoT), big data, cloud computing, robotik hingga bioteknologi.
Kini, dunia memasuki masa transisi menuju Industri 5.0 yang menempatkan manusia sebagai pusat perkembangan teknologi.
Safrizal menyebut terdapat tiga pilar utama dalam Industri 5.0, yakni human centric, sustainability, dan resilience. Perubahan tersebut sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi perguruan tinggi, termasuk USK yang kini berstatus Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH).
Setidaknya ada lima tantangan yang harus mampu dijawab USK.
Pertama, menciptakan nilai tambah. USK dituntut mampu mengolah berbagai potensi daerah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Salah satunya komoditas pertanian dari Aceh Tengah yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra pertanian di Aceh.
“USK harus mampu memberikan nilai tambah untuk komoditas pertanian yang dihasilkan oleh Aceh Tengah,” ujar Safrizal.
Kedua, penguasaan teknologi. Menurutnya, USK tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu menjadi kreator teknologi.
Untuk mewujudkannya, USK perlu memperkuat dan memperbanyak lini bisnis kampus. Para dekan juga didorong menciptakan sumber-sumber pendapatan yang nantinya dapat menjadi modal untuk membiayai inovasi dan pengembangan teknologi.
Ketiga, USK harus mampu menghasilkan riset secara masif. Riset yang dihasilkan perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti di ruang akademik, tetapi mampu membuka peluang baru dan menjawab kebutuhan masyarakat maupun dunia industri.
Keempat, USK harus mampu mengembangkan talenta-talenta yang dimiliki agar menghasilkan karya dan inovasi yang memiliki nilai besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan industri.
Kelima, menghadapi kompetisi global dengan mengubah sumber daya yang dimiliki menjadi keunggulan. Keunggulan tersebut selanjutnya harus ditransformasikan menjadi inovasi yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing.
Safrizal menegaskan, predikat sebagai perguruan tinggi besar membawa tanggung jawab besar bagi USK. Karena itu, nama besar kampus harus dibuktikan melalui kontribusi nyata terhadap pembangunan Aceh.
“USK sering kita sebut besar. Kita harus bertanggung jawab atas nama besar itu,” tegasnya.
Menurut Safrizal, Aceh memiliki kekayaan sumber daya yang sangat besar. Namun, persoalan yang masih dihadapi adalah belum memadainya industri yang mampu mengolah sumber daya tersebut sehingga menghasilkan nilai tambah.
Karena itu, USK dinilai memiliki posisi strategis untuk mendorong lahirnya industri berbasis pengetahuan, teknologi, riset, dan inovasi di Aceh.
“Aceh kaya, tapi tak memiliki industri yang memadai untuk mengolah sumber daya Aceh mendapatkan nilai tambah. USK harus mampu mendorong lahirnya industri yang menciptakan nilai tambah,” katanya.
Ia menilai tantangan tersebut menjadi salah satu tugas penting Rektor USK ke depan. Rektor tidak hanya dituntut memperkuat internal kampus, tetapi juga harus mampu membangun komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan di luar kampus.
“Ini tugas Rektor. Beliau harus mampu berkomunikasi dengan stakeholder di luar kampus, supaya sumber daya bisa diubah menjadi keunggulan,” pungkas Safrizal.












