Kilas Balik Hilirisasi Era Jokowi: Dari Kepemilikan Saham Mayoritas hingga Peresmian Smelter Freeport
JAKARTA, Barometer99.com, (12/10/2026) — Hilirisasi industri menjadi salah satu warisan kebijakan paling strategis dalam rekam jejak kepemimpinan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo. Kebijakan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk mengubah fundamental pengelolaan sumber daya alam nasional: menghentikan ekspor bahan mentah dan mendorong pengolahan di dalam negeri demi nilai tambah ekonomi.
Salah satu tonggak sejarah penting dari kebijakan ini dimulai pada 12 Oktober 2021, ketika Presiden Jokowi secara langsung meletakkan batu pertama (groundbreaking) pembangunan smelter PT Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur. Dirancang dengan nilai investasi fantastis mencapai sekitar Rp42 triliun, fasilitas ini memiliki kapasitas pengolahan hingga 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Proyek raksasa ini tak hanya difungsikan sebagai fasilitas pemurnian, tetapi juga ditujukan untuk membuka ribuan lapangan kerja baru, memicu lahirnya industri turunan tembaga, serta memperkuat ekosistem industri nasional.
Perjalanan panjang tersebut berbuah manis tiga tahun kemudian. Pada 23 September 2024, Presiden Jokowi meresmikan secara langsung dimulainya produksi smelter PT Freeport Indonesia di Gresik. Peresmian tersebut menandai transisi penting dari sekadar perencanaan menuju operasional nyata sebuah fasilitas pemurnian tembaga berskala global di Tanah Air.
Keberhasilan operasional smelter ini semakin melengkapi capaian bersejarah Indonesia atas PT Freeport Indonesia. Sejak proses divestasi yang tuntas pada 2018 melalui PT Inalum (kini bagian dari BUMN Holding Industri Pertambangan, MIND ID), kepemilikan saham Pemerintah Indonesia melonjak drastis dari yang semula hanya 9,36% menjadi pemegang saham mayoritas sebesar 51,23%.
Melalui penguasaan saham mayoritas dan dorongan hilirisasi yang konsisten, era pemerintahan Presiden Joko Widodo telah mencatatkan arah baru bagi pengelolaan kekayaan alam Indonesia—mengubah bahan mentah menjadi nilai tambah ekonomi yang berdikari dan berkelanjutan bagi bangsa.












