Umum  

FOKUS BELA NEGARA (Forum Komunikasi Bela Negara)

Edisi kedua puluh empat, Kamis 2 April 2026

Salam Bela Negara.
AKSI BELA NEGARA MELALUI JALUR PENDIDIKAN

Modul II Implementasi Bela Negara (WANTANNAS, 2018), telah merumuskan prinsip-prinsip dasar secara umum untuk mewujudkan aksi bela negara oleh setiap warga negara sesuai dengan profesinya di lingkungan masing-masing dan di lingkungan publik untuk memperkokoh Ketahanan Nasional dan mensukseskan Pembangunan Nasional. Aksi bela negara melalui jalur pendidikan sangat ditentukan oleh pembangunan sikap dasar karakter bangsa sejak dini dalam rangka mewujudkan cita-cita kemerdekaan yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencapai kesejahteraan umum yang saling terkait dan saling menguatkan.

Tujuan Sistem Pendidikan Nasional

UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) telah mengatur penyelenggaraan pendidikan di Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, melalui jalur pendidikan formal (sekolah), nonformal (kursus), dan informal (keluarga/ lingkungan). Jenjang Pendidikan terdiri atas pendidikan dasar (SD/SMP), menengah (SMA/SMK), dan tinggi (Universitas/Politeknik).

Menurut Pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003, secara spesifik menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis.
Penyelenggaraan sistem pendidikan sebagai proses belajar mengajar juga merupakan proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik agar mempunyai motivasi terbentuknya sikap perilaku yang beradab dengan kegiatan-kegiatan yang memberi keteladanan di lingkungan sekolah.

Penyelenggaraan pendidikan wajib memegang beberapa prinsip antara lain; dilakukan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai budaya, dan kemajemukan bangsa dengan sistem terbuka dan mukti makna

Kurikulum pendidikan dan kegiatan-kegiatan di lingkungan sekolah sangat mempengaruhi tingkat kecerdasan dan karakter siswa sebagai basis pembangunan sumber daya manusia Indonesia seutuhnya. Siswa sangat sensitif terhadap adaptasi ilmu pengetahuan dan juga terhadap kegiatan di lingkungannya. Faktor nasehat dan keteladanan menjadi penting.

Baca Juga :  Lantik 32 Pimti Pratama, Menkum : Pemimpin Harus Tegas dan Berentigritas

Secara umum pendidikan karakter siswa adalah menanamkan beberapa sikap dasar karakter yang menentukan tumbuhnya sikap perilaku siswa antara lain: 1) disiplin, 2) kejujuran, 3) taat hukum, 4) kreatif, dan 5) bertanggungjawab. Sikap dasar karakter siswa sangat menentukan terbentuknya karakter bangsa di masa depan sebagai bangsa yang cerdas dan sejahtera sebagai perwujudan dari cita-cita kemerdekaan.

Pembangunan Karakter Bela Negara

Pembangunan karakter bela negara akan tumbuh jika dilandasi oleh sikap dasar karakter siswa sebagai generasi penerus yang akan menentukan tumbuhnya karakter bangsa yang disiplin, jujur, taat hukum, kreatif dan bertanggungjawab. Posisi pendidikan dasar sangat menentukan tumbuh kesadaran bela negara dan diikuti dengan aksi bela negara sebagai wujud dari penerapan nilai-nilai Pancasila. Masalah besar yang berkembang di masyarakat menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai Pancasila cenderung semakin jauh dari nilai-nilai Pancasila yang sesungguhnya. Gejala ini harus segera diantisipasi dan diatasi agar nilai-nilai Pancasila diterapkan secara murni dan konsekwen.

Jika kita amati nilai-nilai karakter yang berkembang dimasyarakat, ditemukan berbagai sikap perilaku yang tidak seiring bahkan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, seperti: tidak disiplin dalam penggunaan waktu (jam karet), mengambil yang bukan haknya (korupsi), kurang taat peraturan dan perundang-undangan yang berlaku (hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas), kurang menghargai hasil karya bangsa sendiri (masih memilih produksi import), rasa tanggungjawab masih rendah (kerusakan lingkungan makin meningkat), dan sebagainya.

Untuk membangun karakter bangsa yang konsisten dan konsekwen terhadap nilai-nilai Pancasila yang perwujudannya dimunculkan sebagai aksi bela negara diperlukan pembangunan karakter berbasis nilai-nilai dasar bela negara. Perlu sikronisasi antara pendidikan Pancasila dengan pembangunan karakter bela negara sejak dini, agar siswa dapat merasakan adanya proses perwujudan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan lingkungan sekolah sebagai bekal karakter masa depan memasuki lapangan kerja dan sebagai calon pemimpin yang akan datang.

Baca Juga :  Bongkar Dugaan Korupsi Rp105 Miliar, BOM NTB Seret 5 Komisioner KPU Bima ke Kejati

Gerakan Aksi Bela Negara

Agar gerakan aksi bela negara dapat berkembang di lingkungan sekolah, diperlukan modul khusus unuk menanamkan sikap dasar karakter bangsa sebagai basis dari pembangunan karakter bela negara yang secara aktual dilakukan oleh para siswa sebagai gerakan aksi bela negara. Diharapkan modul khusus ini dirumuskan oleh para ahli dan pemerintah sebagai bagian dari proses pendidikan untuk melahirkan generasi penerus yang professional dan berkarakter yang memiliki nilai-nilai dasar bela negara. Suasana kehidupan di lingkungan sekolah harus bebas dari kegiatan-kegiatan yang dapat menumbuhkan karakter negatif seperti; penyalahgunaan narkotika, kekerasan termasuk tauran, dan sebagainya.

Pembangunan gerakan aksi bela negara di lingkungan sekolah dapat dilakukan melalui beberapa bentuk kegiatan. Misalnya, kegiatan kebersihan lingkungan oleh seluruh peserta didik termasuk membersikan sampah, mengepel lantai, membersihkan bangunan termasuk toilet dan sebagainya. Kegiatan siswa ikut melakukan sosialisasi tertip berlalu lintas dan aksi bersama dengan kepolisian di lapangan termasuk aksi bela negara. Pemerintah dapat memberi pembinaan dan dorongan motivasi misalnya dengan melaksanakan pelombaan kebersihan antar sekolah di tingkat kecamatan atau tingkat kabupaten/ kota dengan hadiah yang menarik.

Untuk menggelorakan gerakan aksi bela negara di lingkungan sekolah dapat mencontoh beberapa negara yang memiliki sikap dasar karakter sebagai kekuatan bangsanya untuk maju cepat dan modern. Misalnya bangsa Jepang, yang mempunyai sikap dasar karakter yang telah membudaya antara lain: disiplin (tepat waktu), pekerja keras, tekun dalam pekerjaan, sangat sopan, bersih dan sehat, gaya hidup yang aktif dan efektif. Kekuatan bangsa Jepang ditopang oleh nilai-nilai peradaban yang sudah membudaya secara turun temurun. Sikap sangat hormat kepada orang tua dan guru yang sangat tinggi dan diikuti sikap membungkuk saat berhadapan atau temu antar sesama dengan tulus tetap lestari.

Baca Juga :  Sinergi BNN dan Kemendikdasmen Hadirkan Integrasi Kurikulum Anti Narkoba

Pembagunan karakter bela negara yang memiliki sikap dasar karakter bangsa dan diaktualisasikan sebagai aksi bela negara di lingkungan sekolah akan sangat menentukan karakter bangsa dalam menyongsong masa depan yang adil dan sejahtera. Dengan pembangunan karakter bela negara diharapkan ada perubahan dari karakter buruk yang ada di masyarakat Indonesia menjadi perkembangan karakter yang baik sebagai kekuatan bangsa.

Generasi penerus yang semakin cerdas dan memiliki karakter bela negara akan lebih siap memasuki lapangan kerja modern dan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi sebagai kader-kader bela negara untuk melanjjutkan perjuangan bangsa yang belum selesai.

Semoga bermanfaat

P.A. Rangkuti (PAR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *