Edisi kedua puluh delapan, Rabu, 22 April 2026
Fokus Bela Negara
(Forum Komunikasi Bela Negara)
Salam Bela Negara.
Aksi Bela Negara Bidang Air
Air adalah senyawa anorganik transparan, tidak berasa, dan tidak berbau dengan rumus kimia H2O, menjadi komponen vital seluruh bentuk kehidupan bagi manusia, hewan dan tumbuhan. Air menutupi sekitar 71 persen permukaan bumi berupa air laut sekitar 97,5 persen sisanya sekitar 2,5 persen air tawar. Air bergerak melalui siklus hidrologi meliputi proses penguapan, hujan, dan aliran air (sungai), yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Air sangat menentukan ekosistem kehidupan di darat dan dilaut.
Kebutuhan manusia terhadap air tawar semakin meningkat seiring dengan kemajuan dengan standar kebersihan tertentu untuk kesehatan tubuh. Terutama untuk mencegah dehidrasi, menjaga kesehatan ginjal, meningkatkan energi, mengatur suhu tubuh, melancarkan pencernaan, serta menjaga kesehatan kulit dan sendi. Ketersediaan air tawar sudah tergolong mengalami krisis akibat kebutuhan air tawar berkualitas yang semakin meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan pola kehidupan yang semakin modern untuk keperluan rumah tangga, pertanian, dan industri.
Potensi Air Tawar Nasional
Indonesia sebagai negara kepulauan terdiri dari 17.380 pulau meliputi 70 persen laut dan 30 persen daratan. Indonesia yang terletak di daerah tropika memiliki air tawar yang berlimpah, dan terdapat aliran sungai yang memberi kehidupan bagi masyarakat serta kehidupan beragam flora dan fauna. Sesungguhnya Indonesia tidak khawatir dengan ketutuhan air tawar bagi kehidupan, namun faktanya terjadi perubahan lingkungan yang menggangu ketersediaan air tawar yang cukup dan sehat. Faktor utama yang mengganggu siklus dan ketersediaan air tawar adalah kerusakan lingkungan sumber air dan pencemaran air permukaan.
Indonesia memiliki curah hujan rata-rata yang tinggi, berkisar 1.500 hingga 5.000 mm per tahun, yang bervariasi berdasarkan wilayah. Wilayah barat dan tengah umumnya memiliki curah hujan lebih tinggi dibanding di wilayah timur. Secara umum, Indonesia memilki musim kemarau dan musiam hujan dengan curah hujan yang tersebar hampir merata sepanjang tahun, seringkali mencapai 2.755 mm per tahun. Air hujan yang jatuh ke bumi sebagian tersimpan di dalam tanah, dan sebagian lagi mengalir menuju laut.
Air tanah termasuk sumber air yang memperkaya jumlah air yang mengalir menjadi sungai-sungai yang tersebar di seluruh Indonesia.
Debit air tawar dari hulu hingga ke laut terlihat semakin menurun dan tercemar akibat ulah manusia.
Pembabatan hutan (deforestasi) yang sangat cepat, telah mempengaruhi debit mata air dan debit air sungai serta terlihat semakin berwarna coklat akibat erosi yang semakin besar di hulu. Betonisasi lingkungan dan pengambilan air tanah yang berlebihan untuk keperluan rumah tangga dan industri melalui sumur bor dan pompa air terutama di kota-kota dapat menurunkan permukaan tanah dan mengurangi debit air sungai. Jika kualitas dan debit air sungai menurun terus dapat berdampak krisis air bersih yang semakin mengkhawatirkan.
Kondisi Ketersediaan Air Besih
Potensi hutan Indonesia sebagai penampung air hujan yang menjadi sumber air tawar saat ini berada dalam situasi kritis akibat tingginya tingkat deforestasi, meskipun masih memiliki tutupan hutan alam tropika yang luas. Rata-rata deforestasi mencapai ratusan ribu hektar per tahun, didorong oleh ekspansi perdagangan kayu, perkebunan, pertambangan, dan industri ekstraktif, terutama di Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Di samping sebagai penyimpan air tawar bagi kehidupan, deforestasi telah menggangu sebagai rumah bagi biodiversitas dan sebagai penyangga iklim global. Laju deforestasi yang terus meningkat akan ikut mempercepat perubahan iklim dan pemanasan bumi.
Secara kasat mata kondisi ketersediaan air tawar dapat dilihat dari kondisi sungai di Indonesia yang secara umum memprihatinkan. Di samping debitnya yang sudah menurun, lebih dari 70 persen tercemar akibat limbah domestik, industri, dan sampah. Data terbaru menunjukkan kondisi sungai hanya sekitar 29,3 persen lokasi yang memenuhi standar mutu air. Kondisi pencemaran tertinggi terjadi di Pulau Jawa. Sekitar 68 persen sungai tercemar berat, 24 persen sedang, dan hanya sebagian kecil yang tergolong ringan atau tidak tercemar. Penyebab utama pencemaran berasal dari limbah rumah tangga (sampah padat dan cair), limbah industri, serta aktivitas pertanian.
Salah satu pencemar lingkungan adalah produksi plastik yang meningkat sangat cepat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, perdagangan dan industri. Sampah plastik merupakan jenis sampah tertinggi kedua setelah sampah sisa makanan. Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar di dunia, dengan perkiraan 3,2 juta ton pert tahun masuk ke lautan. Sampah plastik didominasi kebutuhan sehari-hari seperti kantong plastik, gelas plastik, dan kemasan makanan. Pengelolaan sampak plastik dengan daur ulang salah satu upaya mengurangi sampah plastik perlu terus dikembangkan.
Aksi Bela Negara Mengantisipasi Krisis Air Bersih
Sesungguhnya bangsa Indonesia sangat menyadari bahwa air bersih sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat dan untuk yang lain termasuk untuk kebutuhan beribadah. Kebersihan lingkungan keluarga terlihat sudah membudaya secara turun temurun khususnya di dalam rumah dan pekarangan. Yang menjadi masalah utama adalah membuang sampah tidak pada tempatnya, dan banyak berserakan di lingkungan publik. Perlu pembudayaan pembuangan sampah pada tempatnya dengan dukungan bak-bak penampung untuk selanjutnya diangkut ke tempat pembuangan terakhir (TPA).
Yang memperihatinkan adalah masih banyak masyarakat menjadikan aliran selokan dan sungai sebagai tempat pembuangan sampah yang mencemari air. Sampah plastik yang masuk saluran air akan bermuara ke laut menjadi bahan utama yang mencemari sungai dan laut. Pencemaran ini semakin tinggi akibat bahan sampah lainnya seperti sampah rumah tangga bahkan kotoran manusia yang sengaja dibuang ke sungai.
Kesadaran masyarakat bahwa air adalah kebutuhan kehidupan yang sangat penting bagi kesehatan dan lingkungan, merupakan awal dari tumbuhnya aksi bela negara dalam bidang air. Air yang melimpah di Indonesia adalah sebagai anugerah dari Tuhan kepada bangsa Indonesia untuk dimanfaatkan bersama yang patut disyukuri dengan tidak ikut melakukan pencemarannya.
Perlu gerakan secara nasional untuk menempatkan aliran sungai berada di depan pemukiman di desa dan di kota dimana semua warga ikut menjaga kebersihannya dan juga menjadi suasana lingkungan yang alami. Kebersihan sungai diberbagai negara patut di contoh yang menempatkan sungai di depan pemukiman, bahkan di bangun menjadi aliran transportasi sungai yang menawan dan menjadi obyek wisata. Sebagian besar kota-kota di Indonesia berada di aliran sungai-sungai yang potensial sebagai jalur transportasi yang bersih dari sampah dan menjadi obyek wisata yang menawan. Semua kegiatan ikut serta melestarikan ketersediaan air bersih dengan tidak memotong kayu sembarangan serta dengan sadar dan membudaya ikut membuang sampah pada tempatnya dan menjadikan aliran selokan dan sungai bersih dari sampah tergolong aksi bela negara.
Karena masalah sampah sudah menjadi masalah nasional bahkan dunia, perlu perhatian lebih serius dari pemerintah dan masyarakat untuk mengembangkan gerakan bersih lingkungan dan aliran sungai dengan meningkatkan pemanfaatan sampah untuk industri (daur ulang) dan pupuk organik untuk pertanian. Pengawasan penebangan kayu dan pembukaan hutan (deforestasi) di sekitar aliran sungai dari hulu hingga kehilir perlu diperketat. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang urgensi air bersih bagi kehidupan menjadi penting sebagai bentuk partisipasi dan tanggungjawab moral bagi keghidupan masa kini dan masa depan.
Semoga bermanfaat
P.A. Rangkuti (PAR)












