Umum  

Pernyataan Sikap Fraksi PKS Atas Bencana Karhutla Kalimantan

Pernyataan Sikap Fraksi PKS Atas Bencana Karhutla Kalimantan

Oleh: Haji Jalal Abdul Nasir, Ak.
Jabatan: Anggota Komisi XII DPR RI.

Fraksi: Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

Jakarta, 21 Agustus 2026.

Barometer99.com – Kalimantan sedang menangis, akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Hampir seluruh titik di pulau ini kini diselimuti asap, api, dan abu. Sekitar 33.837 hektare hutan dan lahan telah hangus terbakar, bukan sekadar angka statistik, tetapi rumah bagi satwa liar yang musnah, udara bersih yang berubah racun bagi anak-anak kita, dan masa depan hijau yang perlahan direnggut dari generasi mendatang.

Data terbaru hingga Rabu, 19 Agustus, mencatat ribuan titik panas menyala di seluruh:

Kalimantan: Kalimantan Tengah: 2.063 titik panas tertinggi secara nasional, dengan lebih dari 3.000 hektare lahan terbakar.

– Kalimantan Barat: 1.982 titik panas, lebih dari 28.000 hektare area hangus.

– Kalimantan Selatan: 512 titik panas, lebih dari 380 hektare area terdampak.

– Kalimantan Timur: 507 titik panas, lebih dari 1.200 hektare area terdampak
Di balik setiap titik panas itu, ada anak-anak yang harus memakai masker ke sekolah, ada lansia yang sesak napas, ada petani yang kehilangan ladangnya, dan ada satwa endemik Kalimantan
yang kehilangan rumah selamanya.

Ini bukan lagi krisis lingkungan semata — ini krisis kemanusiaan. Pray for Kalimantan, tidak boleh berhenti pada doa dan tagar. Doa harus disertai kerja nyata dari negara. Rakyat Kalimantan tidak butuh simpati di media sosial. Mereka butuh langit yang bisa dihirup dan hutan yang tetap berdiri untuk anak cucu mereka.

Seruan Fraksi PKS, Kepada Pemerintah:
Fraksi PKS menyerukan kepada seluruh komponen pemerintah untuk segera bergerak, sesuai peran dan tanggung jawab masing-masing:

Baca Juga :  Uji Sidang Proposal Disertasi Doktor Ilmu Hukum, Bamsoet Dorong Penguatan Medikolegal di Rumah Sakit

Pertama, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementrian Kehutanan. Sebagai penanggung jawab dalam pengelolaan dan lingkungan dan kehutanan, kedua kementrian harus mempercepat operasi pengendalian di kawasan hutan, mengoptimalkan sistem pemantauan
titik panas, serta memastikan Direktorat Jenderal Gakkum LHK menindak tegas pelaku pembakaran lahan tanpa pandang bulu, termasuk korporasi besar yang selama ini kerap mengeksploitasi hutan secara ilegal.

Kedua, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kami mendesak BNPB segera mengkoordinasikan status darurat di wilayah-wilayah terdampak parah, mengerahkan water bombing dan modifikasi cuaca secara masif, serta memastikan bantuan, hadir di titik-titik api sebelum kobaran meluas lebih jauh.

Ketiga, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). BMKG harus memperkuat peringatan dini terhadap potensi kekeringan dan dampak El Nino, agar langkah antisipasi dapat diambil jauh sebelum api menyala, bukan setelah hutan telah menjadi abu.

Keempat, Pemerintah Daerah (Gubernur dan Bupati se-Kalimantan). Kami meminta kepala daerah segera menetapkan status siaga darurat di wilayah masing-masing serta mengaktifkan penuh Satgas Karhutla, dengan koordinasi lintas kabupaten yang cepat dan tidak birokratis.

Kelima, TNI dan Polri. Kami mengapresiasi personel yang telah berjuang di lapangan, dan mendorong agar operasi pemadaman terus diperkuat, disertai penegakan hukum tegas terhadap pelaku pembakaran lahan, siapa pun mereka.

Penutup Kalimantan adalah paru-paru dunia. Ketika ia terbakar, yang terbakar bukan hanya pohon dan lahan, tetapi juga harapan jutaan rakyat Indonesia akan masa depan yang layak. Kami akan terus mengawal dan mengawasi penanganan bencana ini, dan tidak akan berhenti menyuarakan hak rakyat Kalimantan untuk hidup dengan udara bersih dan hutan yang lestari. Sudah cukup Kalimantan menangis dalam diam. Saatnya negara hadir, bertindak cepat, dan
bertanggung. (Efendi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *