Pirex Berisi Sabu Masih Tergeletak di Lantai, Polres Prabumulih Bekuk Tersangka Narkoba di Dalam Ruko
PRABUMULIH, Barometer99.com — Satuan Reserse Narkoba Polres Prabumulih jajaran Polda Sumatera Selatan kembali mengungkap kasus penyalahgunaan narkotika dengan mengamankan seorang tersangka berikut barang bukti sabu seberat 1,82 gram di sebuah ruko di Jalan Padat Karya, Kelurahan Gunung Ibul Timur, Kecamatan Prabumulih Timur, Kota Prabumulih, Senin (1/6/2026) sekitar pukul 18.00 WIB.
Pengungkapan kasus tersebut berawal dari informasi masyarakat yang diterima petugas terkait dugaan aktivitas penyalahgunaan narkotika di lokasi tersebut. Menindaklanjuti laporan itu, Kasat Reserse Narkoba Polres Prabumulih AKP Muhammad Arafah, S.H., memerintahkan Kanit Idik II Satresnarkoba Polres Prabumulih Ipda Novi Pran Prayogi, S.H., bersama anggota operasional untuk melakukan penyelidikan dan penindakan.
Saat dilakukan penggerebekan, petugas mengamankan seorang pria berinisial HA (19), warga Kecamatan Prabumulih Timur. Berdasarkan data yang telah diverifikasi, tersangka lahir pada 1 September 2006 dan berstatus sebagai orang dewasa saat diamankan.
Dalam penggeledahan yang disaksikan perangkat lingkungan setempat dan warga, petugas menemukan satu tas hitam yang disimpan di bawah meja. Di dalam tas tersebut terdapat sebuah amplop hijau berisi lima paket plastik klip yang berisi narkotika jenis sabu dengan berat bruto 0,72 gram.
Petugas kemudian menemukan satu set alat hisap sabu dan satu buah pirex kaca yang masih berisi sabu dengan berat bruto 1,10 gram tergeletak di lantai tidak jauh dari posisi tersangka saat diamankan. Selain itu, polisi turut menyita uang tunai sebesar Rp300.000 yang diduga berkaitan dengan aktivitas penyalahgunaan narkotika.
Temuan pirex kaca yang masih berisi sabu menjadi salah satu fakta penting dalam pengungkapan ini. Barang bukti tersebut menunjukkan adanya dugaan aktivitas konsumsi narkotika yang sedang berlangsung atau baru saja dilakukan sebelum petugas tiba di lokasi. Total keseluruhan sabu yang berhasil diamankan mencapai 1,82 gram.
Dari hasil pemeriksaan awal, HA mengakui seluruh barang bukti tersebut merupakan miliknya. Tersangka juga mengaku memperoleh sabu tersebut dengan cara membeli dari seseorang berinisial D yang berdomisili di wilayah Panta Dewa, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
Pengakuan tersebut membuka dimensi baru dalam pengembangan perkara karena mengindikasikan adanya jalur pasokan narkotika lintas kabupaten dari wilayah PALI menuju Kota Prabumulih. Saat ini penyidik Satresnarkoba Polres Prabumulih terus melakukan pengembangan guna memburu pemasok yang telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).
Kapolres Prabumulih AKBP Bobby Kusumawardhana, S.H., S.I.K., M.Si., menegaskan bahwa pengungkapan ini merupakan bagian dari komitmen Polres Prabumulih dalam memutus mata rantai peredaran narkotika hingga ke tingkat pemasok.
“Setiap pengungkapan tidak berhenti pada penangkapan pengguna atau penguasaan barang bukti semata. Kami akan terus melakukan pengembangan untuk mengungkap jaringan di atasnya. Informasi mengenai pemasok yang berada di wilayah PALI saat ini sedang kami tindak lanjuti dan akan kami kejar sampai tuntas,” tegas AKBP Bobby Kusumawardhana.
Sementara itu, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sumatera Selatan Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H., mengapresiasi peran aktif masyarakat yang terus memberikan informasi kepada kepolisian terkait aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar.
“Keberhasilan pengungkapan kasus narkotika sangat membutuhkan dukungan masyarakat. Informasi yang cepat dan akurat memungkinkan petugas bergerak lebih efektif untuk mencegah peredaran narkotika semakin meluas. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tidak ragu melaporkan aktivitas yang mencurigakan kepada kepolisian,” ujar Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya.
Saat ini tersangka beserta seluruh barang bukti telah diamankan di Satresnarkoba Polres Prabumulih guna menjalani proses penyidikan lebih lanjut. Penyidik juga terus melakukan pendalaman terhadap jaringan pemasok yang diduga terhubung dengan peredaran narkotika lintas wilayah di Sumatera Selatan.
Berita Terkait
Polresta Mataram Tangkap Pelaku Pembunuh Mahasiswi Unram Mataram, Barometer99.com- Misteri kematian NDR (21), mahasiswi asal Kabupaten Sumbawa Barat yang ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di Jalan Sakura, Kelurahan Gomong, Kota Mataram pada 17 Mei 2026, akhirnya berhasil diungkap jajaran Satreskrim Polresta Mataram. Setelah melalui penyelidikan intensif selama hampir dua bulan, Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Satreskrim Polresta Mataram berhasil mengamankan seorang pria berinisial HK (17), warga Kelurahan Punia, Kecamatan Mataram, yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka. Keberhasilan pengungkapan kasus tersebut disampaikan langsung oleh Kapolresta Mataram Kombes Pol. Hendro Purwoko, dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Wira Pratama Polresta Mataram, Jumat (31/07/2026). Konferensi pers turut dihadiri Kasat Reskrim Polresta Mataram AKP I Made Dharma YP, para Kanit Reskrim, Tim URC, Kasi Humas Polresta Mataram, serta keluarga korban yang sejak awal mengikuti perkembangan penyelidikan. Kapolresta menjelaskan, peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu dini hari, 16 Mei 2026, di kamar kos korban di kawasan Gomong, Mataram. Namun, jasad korban baru ditemukan keesokan harinya, Minggu (17/05/2026) sekitar pukul 19.00 Wita, oleh seorang rekannya yang datang ke kos karena korban tidak dapat dihubungi sepanjang hari. “Peristiwa itu terjadi pada dini hari, sedangkan korban ditemukan meninggal dunia keesokan harinya oleh temannya yang datang karena seharian tidak mendapatkan kabar dari korban,” jelas Kapolresta. Usai menerima laporan, Satreskrim Polresta Mataram langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengumpulkan barang bukti, meminta keterangan para saksi, serta melakukan penyelidikan secara intensif. Kapolresta mengungkapkan, titik terang perkara ini bermula dari hasil identifikasi barang-barang milik korban yang hilang, terutama sepeda motor dan telepon genggam. Pada Rabu malam (29/07/2026), Tim URC mengamankan HK dalam penanganan kasus pembacokan di Kota Mataram. Saat diamankan, petugas menemukan sepeda motor yang dikendarai pelaku. Setelah dilakukan pengecekan nomor rangka dan identifikasi kendaraan, polisi memastikan bahwa sepeda motor tersebut merupakan milik NDR yang hilang sejak peristiwa di kamar kos. “Awalnya tim mengamankan tersangka terkait kasus pembacokan. Namun setelah dilakukan identifikasi, sepeda motor yang digunakannya ternyata merupakan milik korban pembunuhan di Gomong. Dari situlah penyelidikan dikembangkan hingga akhirnya tersangka mengakui perbuatannya,” terang Kapolresta. Niat Mencuri Berujung Hilangnya Nyawa Korban Berdasarkan hasil pemeriksaan penyidik, HK mengaku awalnya datang seorang diri ke kawasan kos-kosan dengan tujuan melakukan pencurian. Ia mengamati situasi sekitar sebelum mencoba membuka beberapa pintu kamar kos. Sebagian besar kamar dalam keadaan terkunci, namun pintu belakang kamar korban hanya tertutup tanpa dikunci. Tersangka kemudian masuk secara diam-diam dan mengambil dua unit telepon genggam milik korban. Merasa masih memiliki kesempatan mengambil barang berharga lainnya, HK kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci sepeda motor korban. Namun ketika hendak mengambil kunci tersebut, korban terbangun dan sempat berteriak. Dalam kondisi panik, tersangka diduga mendorong korban hingga terjatuh di atas tempat tidur, kemudian menindih tubuh korban serta membekap mulut dan hidung korban menggunakan bantal hingga korban tidak lagi bergerak. Setelah itu, tersangka membawa kabur sepeda motor milik korban. Untuk menghilangkan jejak, sepeda motor tersebut dipreteli dan diubah tampilannya agar tidak mudah dikenali. Selama hampir dua bulan, kendaraan itu tetap digunakan tersangka dalam aktivitas sehari-hari hingga akhirnya menjadi petunjuk penting yang mengungkap kasus tersebut. Dalam konferensi pers, Kapolresta juga mengungkap bahwa HK merupakan residivis tindak pidana. Dari hasil pemeriksaan sementara, tersangka juga mengaku pernah melakukan tiga aksi penusukan di wilayah Kota Mataram, yakni di Jalan Majapahit, Jalan Airlangga, dan Jalan Bougenville. Menurut pengakuannya, aksi kekerasan tersebut dipicu persoalan sepele, seperti merasa tersinggung karena ditegur atau dipandang oleh korban. Meski demikian, dalam kasus meninggalnya NDR, penyidik menyebut motif utama tersangka adalah pencurian yang kemudian berkembang menjadi tindak kekerasan ketika aksinya diketahui korban. “Jadi motif awalnya adalah pencurian. Karena ketahuan oleh korban, pelaku panik dan melakukan kekerasan yang akhirnya menyebabkan korban meninggal dunia,” tegas Kapolresta. Dalam perkara ini, penyidik telah mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya pakaian korban, tempat tidur, sepeda motor milik korban, serta senjata tajam yang diduga digunakan tersangka dalam sejumlah perkara pembacokan lainnya. Atas perbuatannya, HK dijerat dengan pasal berlapis, yakni Pasal 458 ayat (1), Pasal 479 ayat (3), Pasal 307 ayat (1), dan Pasal 466 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara. Keluarga Korban Sampaikan Apresiasi Pengungkapan kasus tersebut disambut haru oleh keluarga korban yang hadir langsung dalam konferensi pers. Ibu kandung beserta keluarga NDR menyampaikan apresiasi kepada Kapolresta Mataram, Kasat Reskrim, Tim URC, dan seluruh jajaran Polresta Mataram yang dinilai telah bekerja keras hingga berhasil mengungkap kasus yang selama hampir dua bulan menjadi tanda tanya. “Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Polresta Mataram yang telah berhasil mengungkap pelaku pembunuhan anak kami. Atas nama keluarga, kami menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kerja keras seluruh jajaran kepolisian,” ujar perwakilan keluarga korban.***
Post Views: 124