Edisi ketiga puluh dua, Rabu 20 Mei 2026
FOKUS BELA NEGARA
(Forum Komunikasi Bela Negara)
Salam Bela Negara.
Peradaban Kebangsaan Berkarakter Bela Negara
Penulis menyampaikan selamat Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026, dan tulisan ini merupakan edisi terakhir dengan topik “Peradaban Kebangsaan Berkarakter Bela Negara”. Selanjutnya semua akan dibukukan sebagai bahan bacaan bagi masyarakat luas khususnya generasi penerus. Peradaban kebangsaan Indonesia tumbuh sejak zaman kuno dari masa prasejarah (zaman Batu hingga Logam), hingga melahirkan beragam suku dengan identitas masing-masing meliputi adat istiadat, bahasa, seni dan pola hidup berkelompok dan berkembang sebagai peradaban Nusantara. Sejak masa kolonial hingga pasca kemerdekaan Indonesia, terjadi transformasi peradaban berciri Nusantara ke arah yang lebih luas berciri peradaban berbasis kebangsaan Indonesia yang semakin modern.
Peradaban Nusantara.
Nusantara adalah istilah yang ada dalam kitab Negarakertagama pada masa kerajaan Majapahit yakni; wilayah yang terletak diantara Samudra Pasifik dan Samudera Hindia, serta diantara Benua Asia dan Benua Australia. Peradaban Indonesia berawal dari peradaban tradisional yang membudaya secara turun temurun sejak masa prasejarah hingga kerajaan Hindu-Buddha dan Islam, berlanjut masa kolonial dan kemerdekaan. Peradaban Nusantara berlangsung secara berkelanjutan menjadi kebudayaan bernilai seni, adat dan pola hidup komunitas masing-masing yang dibatasi oleh alam. Munculnya kerajaan- kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya dan Majapahit semakin terbentuk peradaban dan budaya Nusantara sebagai kumpulan nilai, pengetahuan, tradisi, dan teknologi yang berakar kuat dalam kehidupan berbagai suku atau etnis dimasyarakat.
Posisi Nusantara sebagai wilayah kepulauan sangat mempengaruhi peradaban tata cara hidup di pesisir, teknologi perahu, serta perdagangan antarpulau yang semakin maju. Penduduk Nusantara dikenal sebagai penjelajah lautan diberbagai daerah antara lain suku Madura, Bugis dan suku Ambon yang banyak melahirkan warisan teknologi maritim seperti; perahu pinisi dari Sulawesi, perahu cadik bercadik dari Bali/Kalimantan, perahu kole-kole dari Papua, dan perahu pompon dari Riau. Masa kejayaan kerajaan Sriwijaya dan Majapahit mendominasi jalur perdagangan maritim yang membuktikan kejayaan budaya bahari di masa lalu. Setelah kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan, lahir beberapa kerajaan Islam seperti; Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Demak, Mataram Islam, Gowa-Tallo, dan Ternate-Tidore yang turut mempengaruhi perkembangan paradaban Nusantara.
Terjadi proses transformasi peradaban yang semakin modern berbasis warisan nilai-nilai peradaban yang mencerminkan keberagaman tradisi, seni, bahasa, dan agama bernilai tinggi dan mulia. Islam membawa transformasi besar dalam peradaban Nusantara melalui proses akulturasi yang damai, dan nilai-nilai Islam yang turut membentuk fondasi baru di bidang politik, hukum, sosial, bahasa, pendidikan, hingga arsitektur yang masih melekat kuat dalam kehidupan bermasyarakat. Jejak pengaruh Islam dalam berbagai aspek peradaban Nusantara antara lain meliputi; 1) Bahasa Arab yang banyak diserap menjadi bahasa Indonesia dan bahasa daerah, 2) Sistem kerajaan bercorak Hindu-Buddha bertransformasi menjadi kesultanan. 3) Sistem pendidikan dan keilmuan melalui pesantren yang tumbuh pesat. 4) Akulturasi seni dan budaya dengan tradisi lokal.
Peradaban Kebangsaan Indonesia
Saat Nusantara dikuasai oleh kolonial Belanda mulai akhir abad ke-16 (1596) diawali dengan perdagangan melalui kongsi dagang VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie / 1602-1799) dan berlanjut oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda (1800-1942), terjadi penderitaan masyarakat lokal (pribumi) sebagai dampak kebijakan yang menyengsarakan rakyat lahir dan batin. Kebijakan kolonial Belanda yang membatasi program pendidikan, menerapkan pola diskriminasi dan program Tanam Paksa (1830-1870) merupakan penyebab utama penderitaan dalam waktu yang lama. Sebagai dampak dari penderitaan yang berkepanjangan pada masa penjajahan kolonial Belanda selama ratusan tahun telah melahirkan rasa senasib sepenanggungan dan membangkitkan lahirnya peradaban baru berciri kebangsaan Indonesia.
Kondisi penduduk pribumi yang terbelakang dan sangat menderita mulai bangkit sejak Belanda menerapkan kebijakan balas budi (politik etis) awal 1900-an meliputi tiga aspek yakni; edukasi, irigasi dan imigrasi (transmigrasi). Poltik etis membuka peluang untuk penduduk pribumi mengikuti pendidikan yang melahirkan golongan pejuang terpelajar untuk merdeka di Nusantara.
Atas prakarsa golongan terpelajar pribumi terbentuk organisasi Budi Utomo tanggal 20 Mei 1908 yang menjadi tonggak sejarah Indonesia lahirnya Kebangkitan Nasional. Nama Indonesia semakin nyaring setelah pemuda menyatu dan melahirkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang menunjukkan sikap dan tekad bangsa Indonesia berjuang untuk kemerdekaan terlepas dari kolonial Belanda.
Peradaban Nusantara berbasis peradaban tradisional di tiap suku mulai terjadi transformasi berbasis kebangsaan Indonesia menuju kemerdekaan. Mulai terungkap nilai-nilai peradaban Nusantara sebagai sumber nilai-nilai peradaban bangsa Indonesia, diantaranya oleh Muhammad Yamin dan Soekarno yang dicerminkan dalam berbagai tulisan dan pidatonya. Soekarno banyak belajar tentang peradaban dunia dan mendalami perkembangan peradaban penduduk Nusantara, terlihat dari isi pidato tanggal 1 Juni 1945 di depan sidang BPUPKI, yang kemudian dikenal dengan lahirnya Pancasila.
Soekarno menegaskan dirinya bukanlah pencipta Pancasila, melainkan hanya menggali kembali mutiara yang terpendam dalam bumi Indonesia selama berabad-abad. Artinya Pancasila adalah inti dari peradaban bangsa Indonesia yang berdasarkan pada nilai -nilai; Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Untuk menjamin peradaban Nusantara yang sudah berlangsung secara turun temurun tetap lestari dan terjaga yang sudah bertrasformasi sebagai peradaban kebangsaan yang menyatukan bangsa Indonesia, telah dikunci dengan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa dan dasar negara Indonesia.
Melestarikan Peradaban Kebangsaan Indonesia
Peradaban nasional yang semakin modern dihadapkan kepada perkembangan IPTEK dan lingkungan global yang perlu diantispasi sebagai dampak dari beberapa aspek antara lain;
1)Pengaruh bentuk dan materi informasi global yang semakin sulit membedakan antara kebenaran dan kebohongan,
2)Pengaruh produksi industri canggih yang mendorong sikap materialisme,
3)Lingkungan perkonomian global dengan kompetisi daya saing yang mendorong individualisme,
4)Pengaruh budaya asing yang mendorong semakin tersisihnya budaya lokal.
Kemajuan teknologi informasi mencakup digitalisasi aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan, telah mempengaruhi perubahan peradaban ke arah yang semakin modern yang dapat meninggalkan nilai-nilai peradaban Nusantara sebagai basis dari nilai-nilai Pancasila. Kondisi ini perlu diantisipasi sejak dini agar pembangunan peradaban modern dapat berjalan beriringan dengan pelestarian nilai budaya Nusantara yang syarat dengan nilai-nilai tradisional yang mencerminkan identitas khas bangsa Indonesia dengan pendekatan persuasif dan edukatif.
Peranan tokoh-tokoh formal dan informal sangat menentukan dalam melestarikan nilai-nilai peradaban bangsa Indonesia dalam lingkungan masyarakat modern. Tokoh formal sebagai pemimpin yang dipilih secara resmi oleh lembaga negara atau struktural memiliki legitimasi hukum dan jabatan yang diakui negara (Ketua RT, Ketua RW, Kepala Desa/ Lurah, Camat, Bupati/Walikota, Gubernur, Presiden). Tokoh informal adalah individu yang berpengaruh dan diakui masyarakat berdasarkan kewibawaan, agama, atau adat, tanpa jabatan struktural resmi tetapi mempunyai posisi sosial di masyarakat antara lain; Tokoh Agama (Kiai, Ustaz, Pendeta), Tokoh Adat, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan, Seniman, dan Guru. Peran tokoh informal sangat penting dalam membina peradaban modern berbasis nilai-nilai budaya dan agama bagi generasi muda sebagai generasi penerus.
Kecenderungan generasi muda mengadopsi budaya asing yang tidak seiring dengan nilai-nilai Pancasila, harus dicegah sejak dini seperti cara berpakaian, berbicara, berperilaku hingga pola hidup mewah termasuk penyalahgunaan narkotika dan praktek korupsi yang semakin membudaya. Perkembangan teknolagi informasi modern dapat merubah pola pikir dan peradaban baru yang berbahaya terhadap peradaban bangsa Indonesia. Teknologi informasi modern yang semakin digemari oleh generasi muda perlu diantisipasi dengan karakter bela negara agar tidak melemahkan ketahanan nasional dan merusak peradaban kebangsaan yang berbasis nilai-nilai Pancasila. Peran generasi penerus ikut serta memahami dan mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari melalui pembangunan peradaban kebangsaan berkarakter bela negara menjadi penting menjamin kelangsungan hidup NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Semoga bermanfaat.
Penutup
Pada kesempatan ini saya sampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberi dukungan semangat, saran dan kritik terdahap rangkaian tulisan ini. Secara khusus saya sampaikan terima kasih kepada redaksi “Barometer” yang telah memuat semua edisi sehingga masuk ke ruang publik. Sampai jumpa dalam tulisan selanjutnya dengan tema yang lain.
Terima kasih. Wassalam.
P.A. Rangkuti (PAR)












