Herman Deru Tanggapi Aksi Mahasiswa: Saya Tidak Marah Dikritik
PALEMBANG, Barometer99.com — Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menanggapi aksi demonstrasi gabungan aliansi mahasiswa yang digelar di halaman Kantor Gubernur Sumsel, Senin (5/10/2026).
Aksi yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB tersebut berlangsung kondusif. Dalam aksinya, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera Selatan.
Mahasiswa meminta pemerintah daerah meningkatkan kecepatan dan ketepatan penanganan karhutla, mengambil tindakan tegas terhadap pihak yang melanggar aturan, termasuk korporasi, serta mempertanyakan penggunaan bantuan pemerintah pusat sebesar Rp100 miliar untuk penanganan karhutla.
Aksi mahasiswa juga diwarnai teatrikal yang menggambarkan dampak kabut asap terhadap aktivitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. Mahasiswa menampilkan kondisi perkuliahan yang harus dilakukan secara daring akibat kabut asap serta persoalan gangguan kesehatan seperti ISPA.
Selain itu, mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) turut menampilkan parodi terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari penyampaian aspirasi.
Menanggapi tuntutan tersebut, Herman Deru mengatakan pemerintah tidak mempersoalkan kritik yang disampaikan mahasiswa maupun masyarakat. Ia juga memberikan penjelasan mengenai sejumlah isu yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.
“Saya tidak marah atas pernyataan di media sosial dan pernyataan adik-adik mahasiswa,” ujar Herman Deru.
Terkait isu dirinya makan bersama Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) Muchendi, Herman Deru menjelaskan bahwa pertemuan tersebut berlangsung ketika dirinya dalam perjalanan pulang setelah menjenguk kakaknya yang sedang dalam kondisi kritis.
Menurutnya, agenda pembahasan terkait exit tol bersama Bupati OKI kemudian dilakukan di sebuah rumah makan sebagai tempat singgah. Ia menegaskan kegiatan tersebut berkaitan dengan tugas pemerintahan dan pembiayaannya menggunakan anggaran Pemprov Sumsel.
Herman Deru juga menjelaskan kehadiran istrinya dalam kegiatan Kriyanusa. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan agenda nasional yang memberikan ruang bagi para ketua organisasi yang mewakili istri kepala daerah dari berbagai wilayah Indonesia untuk memperkenalkan dan memasarkan produk kerajinan serta produk unggulan daerah.
“Acara Kriyanusa itu agenda nasional yang diperuntukkan bagi ketua, yang ketuanya adalah istri kepala daerah se-Indonesia. Dalam kegiatan itu diberikan ruang untuk memperkenalkan, menjelaskan dan memasarkan keunggulan produk-produk tradisional, antara lain Sumsel dan berbagai wilayah di seluruh Indonesia,” jelasnya.
Respons Penanganan Karhutla
Herman Deru juga menanggapi permintaan bantuan peralatan pemadam kebakaran dari petugas dan masyarakat, khususnya di wilayah Banyuasin.
Ia mengatakan koordinasi penanganan karhutla terus dilakukan bersama pemerintah daerah terkait. Bahkan, komunikasi dengan Wali Kota Palembang Ratu Dewa dilakukan hingga larut malam menyusul adanya kebakaran di wilayah Talang Jambe yang berada di kawasan perbatasan.
“Tadi malam terjadi lagi kebakaran di wilayah Talang Jambe, perbatasan antara Pemkot dan kota. Tadi malam saya dengan Ratu Dewa berkomunikasi sampai tengah malam dan BPBD Sumsel segera mengirimkan alat bantuan yang dibutuhkan,” katanya.
Herman Deru Jelaskan Penggunaan Dana Rp100 Miliar
Mengenai bantuan pemerintah pusat sebesar Rp100 miliar, Herman Deru mengatakan anggaran tersebut telah dibagi berdasarkan kebutuhan masing-masing wilayah.
Ia menyebut alokasi tersebut terdiri dari Rp20 miliar untuk Muba, Rp15 miliar untuk Banyuasin, Rp15 miliar untuk Ogan Ilir, Rp20 miliar untuk OKI, serta Rp30 miliar untuk Pemprov Sumsel.
Namun, menurut Herman Deru, penggunaan anggaran tersebut tidak dapat dilakukan secara bebas karena harus mengikuti petunjuk teknis yang ditetapkan pemerintah.
“Penggunaannya harus sesuai juknis Permendagri. Jadi kita tidak bisa melakukan pembelanjaan tanpa juknis. Sampai saat ini sedang dalam proses dan semoga cepat direalisasikan,” ujarnya.
Menutup keterangannya, Herman Deru kembali menegaskan bahwa kritik masyarakat maupun mahasiswa merupakan bagian dari dinamika pemerintahan. Ia mengatakan pemerintah tetap menjalankan tugas berdasarkan tanggung jawab, bukan karena adanya kritik.
“Saya tidak pernah marah dan tersinggung atas komentar masyarakat. Karena kami bekerja bukan karena dikritik, tetapi karena kewajiban dan tanggung jawab,” tegasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Herman Deru setelah menerima dan merespons aspirasi mahasiswa yang menyoroti penanganan karhutla serta dampaknya terhadap masyarakat Sumatera Selatan.












