Gebrakan Suyudi Ario Seto Jadi Kapolri: Dari Jumling hingga Perang Melawan Premanisme

Gebrakan Suyudi Ario Seto Jadi Kapolri: Dari Jumling hingga Perang Melawan Premanisme

JAKARTA, Barometer99.com — Nama Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menjadi sorotan setelah dipercaya menjabat Kapolri. Hanya dalam waktu singkat setelah dilantik, sejumlah langkah mutasi dan pergantian pejabat di tubuh Polri langsung dilakukan.

Langkah cepat tersebut menambah perhatian publik terhadap sosok Suyudi yang sebelumnya memiliki rekam jejak panjang di kepolisian, termasuk ketika menjabat Kapolda Banten pada Juni 2024 hingga Agustus 2025.

Saat memimpin Polda Banten, Suyudi dikenal memiliki program yang mendekatkan kepolisian dengan masyarakat. Salah satunya adalah Jumat Keliling atau Jumling.

Melalui program tersebut, jajaran kepolisian di tingkat Polda hingga Polsek diarahkan melaksanakan salat Jumat secara berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lainnya. Suyudi juga turun langsung mengunjungi berbagai wilayah di Banten setiap Jumat.

Program tersebut tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana bagi polisi untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat di berbagai daerah.

Selain pendekatan kepada masyarakat, Suyudi juga mendapat sorotan karena langkahnya menghadapi aksi premanisme di Banten. Berdasarkan catatan wartawan Radar Banten yang dikutip Dahlan Iskan, ratusan orang yang disebut terlibat dalam aksi premanisme ditangkap selama periode tersebut.

Salah satu kasus yang mencuat adalah penangkapan Ketua Kadin Cilegon yang dikaitkan dengan dugaan permintaan proyek kepada PT Chandra Asri Pacific Tbk. Perusahaan tersebut diketahui tengah mengembangkan proyek petrokimia berskala besar di Cilegon.

Perhatian pada Pengangguran

Suyudi juga menjalankan program Poliran, akronim dari Polisi Peduli Pengangguran.

Program tersebut berangkat dari pandangan bahwa persoalan pengangguran dapat berkaitan dengan munculnya berbagai persoalan sosial, termasuk kriminalitas dan premanisme.

Melalui program itu, kepolisian mendorong pelatihan keterampilan dan kegiatan magang bagi masyarakat yang belum memiliki pekerjaan. Peserta pelatihan kemudian diarahkan mendapatkan pengalaman melalui kesempatan magang di sejumlah perusahaan.

Baca Juga :  Kapolres Pidie Jaya Jalin Silaturahmi dengan Abu Dayah Mudi Al-Aziziyah

Selain persoalan di masyarakat, Suyudi juga memberikan perhatian terhadap kedisiplinan internal anggota kepolisian, khususnya terkait penyalahgunaan narkotika.

Menurut catatan Dahlan Iskan, anggota polisi yang terlibat persoalan narkoba maupun pelanggaran disiplin dapat diberikan pembinaan khusus, termasuk ditempatkan sementara di pesantren.

Rekam jejak tersebut kemudian berlanjut ketika Suyudi dipercaya memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN) sebelum akhirnya ditunjuk menjadi Kapolri.

Kini, setelah berada di pucuk pimpinan Polri, berbagai langkah Suyudi kembali menjadi perhatian. Pergantian sejumlah pejabat strategis, termasuk Kapolda, menjadi salah satu keputusan awal yang menunjukkan bahwa kepemimpinannya akan membawa susunan tim baru.

Pengalaman ketika memimpin Polda Banten menjadi bagian penting dari perjalanan Suyudi sebelum menduduki jabatan tertinggi di institusi kepolisian.

Program pendekatan kepada masyarakat, pemberantasan premanisme, perhatian terhadap pengangguran, hingga penegakan disiplin internal menjadi sejumlah catatan yang melekat pada kiprahnya.

Kini publik menunggu bagaimana rekam jejak tersebut diterjemahkan dalam kebijakan Suyudi sebagai Kapolri dan bagaimana perubahan di tubuh Polri akan dijalankan di bawah kepemimpinannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *