Densus 88 Satgaswil Sumsel Wasbang 1.700 Maba FTIK UIN Raden Fatah
PALEMBANG, Barometer99.com — Tim Cegah Satuan Tugas Wilayah Sumatera Selatan Densus 88 AT Polri memberikan materi Wawasan Kebangsaan dan Pencegahan Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) kepada 1.700 mahasiswa baru Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Raden Fatah Palembang.
Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 2 September 2026 pukul 09.40 WIB di Academic Center Building UIN Raden Fatah, Jl. Prof. K.H. Zainal Abidin Fikri Km 3,5 Palembang, dan menjadi bagian dari rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Dekan FTIK Dr. Muhamad Fauzi, http://S.Ag., http://M.Ag., Wakil Dekan I Dr. Alimron, http://M.Ag., Wakil Dekan II Dr. Amalia Hasanah, S.S., http://M.Pd., dan Wakil Dekan III Dr. Kristina Imron, Lc., http://M.Pd.I. Total peserta yang mengikuti mencapai ±1.720 orang.
Soroti Transisi Radikalisasi ke Ruang Digital
Sebagai narasumber pertama, Briptu Achmad Nur Rohman, S.H. mengawali pemaparan dengan menjelaskan tugas dan fungsi Densus 88 AT Polri dalam upaya pencegahan, penindakan, serta penanggulangan ancaman terorisme.
Ia menekankan bahwa terorisme merupakan sebuah proses. Dimulai dari intoleransi, berkembang menjadi radikalisme, lalu ekstremisme, hingga berpotensi mengarah pada tindakan terorisme.
“Perkembangan teknologi informasi menyebabkan transisi radikalisasi dari dunia nyata menuju ruang maya. Media sosial saat ini menjadi medan pertarungan baru berupa penyebaran hoaks, propaganda, ujaran kebencian, hingga paham intoleran dan ekstrem,” jelas Briptu Rohman.
Dalam paparannya, ia juga menguraikan sasaran dan sarana penyebaran paham radikal, tiga klaster ekstremisme kekerasan yakni RMVE, IMVE, dan NVE, serta pola perekrutan dengan pendekatan “sahabat” yang menyasar individu rentan seperti korban perundungan, broken home, kurang perhatian, dan akses device berlebihan.
Untuk menangkalnya, ia memperkenalkan prinsip “Stop, Cek, Pikir, Bagikan” sebagai langkah bijak dalam bermedia sosial. Selain itu, penguatan wawasan kebangsaan melalui 4 konsensus dasar bangsa: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI, juga ditekankan.
“Mahasiswa harus menjadi agen perubahan. Aktif menjaga persatuan, membangun toleransi, meningkatkan literasi digital, dan mencegah penyebaran paham IRET baik di kampus maupun di ruang digital,” tegasnya.
Luruskan Pemahaman Ushul dan Furu’ dalam Islam
Narasumber kedua, Briptu M Farhan, S.H. menyampaikan materi dari perspektif keislaman. Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam terdapat dua konsep utama ilmu, yaitu Ushul dan Furu’.
“Ushul adalah pokok agama yang bersifat qath’i seperti akidah, rukun iman, dan ibadah wajib. Sedangkan Furu’ adalah cabang fiqih yang bersifat zhanni dan terbuka untuk ijtihad,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa salah satu akar permasalahan radikalisme adalah ketika masyarakat menyikapi masalah furu’ seolah-olah ushul.
“Kaidaahnya jelas: Tidak ada pengingkaran dalam masalah ijtihad. Kesalahan dalam masalah cabang tidak membatalkan keimanan. Pokok harus kuat, cabang boleh longgar. Radikal muncul ketika beda pendapat fiqih langsung saling mengkafirkan,” papar Briptu Farhan.
Harapan Cegah IRET di Lingkungan Kampus
Kegiatan yang dilaksanakan oleh Briptu Achmad Nur Rohman, S.H., dan Briptu M Farhan, S.H. ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam mencegah penyebaran paham IRET di lingkungan kampus wilayah Sumatera Selatan, khususnya Kota Palembang.
Pihak FTIK UIN Raden Fatah menyambut baik kegiatan ini. Menurut panitia, pembekalan sejak dini kepada mahasiswa baru sangat penting agar mereka memiliki benteng pemahaman kebangsaan dan keagamaan yang moderat.
Kegiatan PBAK FTIK UIN Raden Fatah dengan materi Wasbang dan Pencegahan IRET ini berjalan dengan lancar, tertib, dan interaktif.












