Umum  

Di Balik ID Card : Membongkar Perbedaan Wartawan Asli dan Abal-Abal

Di Balik ID Card : Membongkar Perbedaan Wartawan Asli dan Abal-Abal

Kabupaten Buru Barometer99.com – Di era keterbukaan informasi, menjadi wartawan kerap dipandang mudah. Cukup dengan sebuah kartu identitas atau ID Card, seseorang bisa mengklaim diri sebagai jurnalis.

 

Namun, di balik kartu itu, terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara wartawan sejati dan wartawan abal-abal—perbedaan yang tidak hanya terlihat dari tampilan, tetapi dari integritas, cara kerja, dan tanggung jawab moral.

 

Wartawan profesional memahami bahwa tugasnya bukan sekadar mencari berita, tetapi menyampaikan kebenaran.

 

Ia bekerja dengan prinsip, memegang teguh kode etik jurnalistik, serta mengedepankan fakta yang telah diverifikasi. Dalam setiap tulisannya, ia berusaha melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, tidak terburu-buru menghakimi, dan selalu memberi ruang bagi klarifikasi. Baginya, pena adalah amanah, dan setiap kata yang ditulis harus bisa dipertanggungjawabkan.

 

Sebaliknya, wartawan abal-abal seringkali menjadikan ID Card sebagai alat tekanan. Mereka datang bukan untuk menggali informasi, tetapi untuk menakut-nakuti, bahkan tak jarang berperan seolah-olah sebagai aparat penegak hukum. Mereka mencampuradukkan profesi jurnalistik dengan kepentingan pribadi, mengaburkan batas antara mencari berita dan mencari keuntungan.

 

Alih-alih mencerdaskan publik, mereka justru mencederai kepercayaan masyarakat terhadap profesi wartawan.

Perbedaan paling nyata terletak pada niat dan cara. Wartawan sejati bekerja dengan hati nurani, sementara wartawan abal-abal bekerja dengan kepentingan.

 

Wartawan profesional menjaga marwah profesi, sedangkan yang abal-abal justru merusaknya.

 

Di balik sebuah ID Card, publik perlu lebih jeli. Tidak semua yang mengaku wartawan benar-benar menjalankan fungsi jurnalistik.

 

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengenali ciri-ciri wartawan yang kredibel: bekerja terbuka, menghormati narasumber, tidak memaksakan kehendak, serta tidak menyalahgunakan profesi.

Baca Juga :  PT Ashna Energi Internusa Rekrutmen Tenaga Kerja Alumni SMKN 1 Pangkalan Kerinci

 

Pada akhirnya, wartawan bukan hanya soal identitas, tetapi soal tanggung jawab. Sebab, kepercayaan publik tidak dibangun dari kartu yang digantung di leher, melainkan dari integritas yang dijaga dalam setiap langkah dan tulisan.

 

Penulis : Sofyan Muhammadia, SE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *