Umum  

Konflik Iran–AS-Israel Picu Ancaman Krisis Energi, Indonesia Diminta Perkuat Ketahanan Energi

Konflik Iran–AS-Israel Picu Ancaman Krisis Energi

Jakarta, Barometer99.com – Eskalasi konflik antara Iran dan koalisi Amerika Serikat (AS)–Israel di kawasan Timur Tengah dinilai berpotensi memicu krisis energi global yang juga dapat berdampak serius terhadap perekonomian Indonesia.

Ketua Umum Ikatan Media Online (IMO) Indonesia, Yakub F. Ismail, menilai perang yang telah berlangsung lebih dari 10 hari tersebut bukan lagi sekadar konflik regional. Menurutnya, ketegangan di kawasan Teluk telah menyentuh langsung jalur utama perdagangan energi dunia.

“Kawasan Timur Tengah merupakan jalur strategis perdagangan minyak dan gas dunia. Setiap ancaman terhadap jalur tersebut, khususnya di sekitar Teluk dan Selat Hormuz, berpotensi memicu lonjakan harga energi global,” ujarnya dalam sebuah tulisan bertajuk Perang dan Ancaman Krisis Energi bagi Indonesia.

Ia menjelaskan, Selat Hormuz selama ini menjadi jalur pengiriman sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Jika terjadi gangguan di wilayah tersebut, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara di kawasan Timur Tengah, tetapi juga negara lain yang bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia.

Menurut Yakub, Indonesia masih mengandalkan impor minyak dan LPG untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Kondisi ini membuat perekonomian nasional rentan terhadap gejolak harga energi di pasar internasional.

Lonjakan harga minyak mentah dunia, lanjutnya, dapat menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat meningkatnya beban subsidi energi. Pemerintah pun dihadapkan pada dilema antara menambah beban fiskal atau menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Selain itu, krisis energi global juga berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri seperti baja, petrokimia, semen, hingga manufaktur. Dampaknya juga bisa dirasakan oleh pelaku usaha kecil dan menengah akibat kenaikan biaya logistik serta harga bahan bakar.

Baca Juga :  Dandim Sleman Terima Audensi Kepala BNNK Sleman

“Jika biaya operasional meningkat, maka daya saing produk nasional akan menurun. Dalam situasi bersamaan, inflasi juga dapat menekan daya beli masyarakat,” katanya.

Yakub menilai, kondisi tersebut berpotensi memicu kerawanan sosial apabila krisis energi berlangsung dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pemerintah perlu segera mengambil langkah antisipatif untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Ia menyarankan Indonesia mempercepat diversifikasi energi melalui pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, panas bumi, dan biofuel. Selain itu, peningkatan kapasitas kilang nasional serta pembangunan cadangan strategis minyak dinilai penting untuk menghadapi potensi krisis energi di masa depan.

“Langkah-langkah tersebut penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global,” ujarnya.

Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Media Online (IMO) Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *