Umum  

Fokus Bela Negara Konsepsi Kewaspadaan Nasional

Edisi kesepuluh, Senin 26 Januari 2026

Fokus Bela Negara Konsepsi Kewaspadaan Nasional

Salam Bela Negara.
Untuk memahami hambatan, tantangan, dan ancaman (HTGA) yang perlu diwaspadai sejak dini menuju terwujudnya cita-cita kemerdekaan Indonesia, LEMHANNAS telah merumuskan konsepsi Kewaspadaan Nasional sebagai panduan bagi masyarakat ikut serta dalam membangun Ketahanan Nasional.

Kewaspadaan Nasional adalah sikap sadar, waspada, dan proaktif seluruh warganegara terhadap segala potensi berbagai bentuk HTGA terkait dengan kelangsungan hidup NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 menuju terwujudnya cita-cita bangsa Indonesia.

Dengan perkembangan IPTEK yang sangat canggih dan era globalisasi yang sangat dinamis, telah memunculkan faktor-faktor yang semakin komplek yang dapat setiap saat mengancam kelangsungan hidup NKRI. Untuk mengetahui apa saja yang wajib diwaspadai oleh setiap warganegara, dapat ditelusuri melalui konsepsi Ketahanan Nasional dari kedelapan gatranya (Asta Gatra).

Uraian berikut akan dimulai dari Tri Gatra meliputi gatra Geografi, Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) serta dilanjutkan dengan Panca Gatra meliputi gatra ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan (ipoleksosbudhankam).

Gatra Geografi

Untuk memahami HTGA dalam gatra Geologi dapat dilakukan dengan mendalami konsepsi Wawasan Nusantara, yakni untuk mengetahui posisi Indonesia sebagai negara kepulauan (Archipelago State) dengan ribuan pulau yang terletak di daerah khatulistiwa dan berada pada posisi silang strategis di antara Benua Asia dan Australia dan di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

Wilayah kedaulatan NKRI yang terdiri dari laut sekitar 70 persen dan daratan 30 persen menjadi satu kesatuan wilayah (Tanah Air) dengan batas laut yang sangat panjang. Wilayah kedaulatan NKRI yang berbatasan langsung dengan 12 negara, mempunyai potensi kekayaan alam yang luar biasa tetapi juga mempunyai ancaman tersendiri.

Dengan posisi geografi yang sangat terbuka, sangat rentan terhadap penyeludupan, pencurian SDA dan infiltrasi spionasi asing bahkan invasi militer asing. Perkembangan geopolitik terutama di Asia menjadi ancaman yang perlu diwaspadai, terutama dari negara-negara yang ada di kawasan Samudera Pasifik, yang memerlukan SDA yang semakin meningkat bagi bangsanya.

Baca Juga :  Dandim Sleman Tinjau Pembangunan Jembatan Gantung Garuda

Persaingan politik dan ekonomi akan semakin dinamis untuk kepentingan negara masing-masing.
Untuk mengantisipasi ancaman dalam aspek geografi, kekuatan TNI dan POLRI menjadi andalan utama dengan dukungan rakyat untuk menjamin kedaulatan negara.

Peran masyarakat yang berada di perbatasan darat perlu ditingkatkan untuk ikut menjaga kedaultan negara. Peran penduduk sebaga nelayan dan yang tinggal di pulau kevil yang hidupnya sehari-hari di laut, perlu dibina secara khusus sebagai kader-kader bela negara ikut serta menjaga kedaulatan negara dan menjaga laut dari pencurian ikan dan pencurian SDA lainnya seperti kayu dan bahan tambang.

Potensi nelayan dapat ikut serta mengantisipasi terjadinya penyeludupan dan infiltrasi kekuatan asing yang akan menggangu Ketahanan Nasional.

Gatra Sumber Daya Alam (SDA)

Potensi SDA Indonesia terkenal dengan kekayaan alamnya meliputi flora, fauna, dan bahan tambang serta memiliki hutan tropis yang sangat luas. Alam Indonesia telah membentuk ekosistem dalam memenuhi kebutuhan hidup bangsa Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur.

Sesungguhnya tidak ada alasan bangsa Indonesia tidak bisa keluar dari kemiskinan, dan peluang menjadi bangsa yang sejahtera terbuka luas dengan dukungan SDA yang melimpah. Namun faktanya di lapangan kerusakan alam semakin meningkat akibat dari pembangunan yang kurang memperhatikan lingkungan dan ekosistem.

Kerusakan ekosistem di Indonesia sangat parah, didominasi oleh deforestasi sebagai dampak alih fungsi hutan untuk perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan pembalakan liar yang tidak terkendali. Telah terjadi pencemaran udara, air, dan laut akibat limbah industri dan plastik.

Kerusakan terumbu karang juga terjadi akibat kenaikan suhu dan polusi, yang mengancam keanekaragaman hayati, menyebabkan bencana ekologis, dan menurunkan kualitas hidup masyarakat.

Terjadi kehilangan berbagai jenis flora dan fauna, menurunnya luas lahan untuk usaha tani rakyat, mengecilnya debit air di sungai-sungai yang berdampak buruk terhadap kehidupan bangsa Indonesia.

Baca Juga :  Waspada Curanmor, Maling Hantui Puskesmas Dampit Berharap Ada Security Atau Penjaga Parkir 24 Jam

Optimalisasi pendayagunaan potensi SDA dan pemberdayaan masyarakat perlu dilakukan secara bijaksana dengan menerapkan kolaborasi antar lima komponen bangsa dengan model Pentahelix yakni komponen pemerintah, akademisi, pengusaha, masyarakat dan media.

Penguasaan dan penerapan IPTEK harus ramah lingkungan dan bernar-benar sesuai dengan kebutuhan rakyat. Kerusakan lingkungan dapat mengancam kebutuhan pangan, energi dan kebutuhan air. Yang lebih berbahaya lagi terjadinya pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim.

Jika air laut meningkat maka Indonesia sebagai negara kepulauan termasuk yang akan mendapat akibat buruk yang serius.

Pemanfaatan SDA harus didasarkan kepada kebijakan pemerintah yang pro rakyat dan menyelamatkan lingkungan.

Gatra Sumber Daya Manusia (SDM)

Jumlah penduduk yang semakin meningkat menuju setengah miliyar jiwa, akan menjadi beban negara jika tidak dilakukan pembangunan SDM yang semakin cerdas, sejahtera dan berkeadilan.

Ancaman terhadap SDM meliputi rendahnya kualitas pendidikan dan keterampilan, serta ketimpangan akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Penguasaan IPTEK belum sesuai secara optimal dengan kebutuhan pembangunan.

Masalah kesehatan mencakup stunting, gaya hidup buruk, penyalahgunaan narkoba sangat mengancam kualitas bangsa dalam jangka panjang.

Perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih, telah menimbulkan ancaman siber, kesenjangan digital, dan berta-berita hoaks yang menyesatkan.

Kondisi ini semakin menyulitkan Indonesia bebas dari kemiskinan dan pengangguran dan keterbelakangan.

Perlu kesiapan bangsa terutama generasi penerus memasuki era kehidupan modern dengan meningkatkan pendidikan agar SDM semakin cerdas dan profesional serta peka terhadap perubahan tetapi tetap konsisten dan konsekwen atas nilai-nilai perjuangan bangsa dan nilai-nilai Pancasila.

Data BPS (2021) menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Tinggi di Indonesia hanya 15,21%, jauh tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia (33,3%) dan Thailand (24,8%).

Baca Juga :  PT Ashna Energi Internusa Rekrutmen Tenaga Kerja Alumni SMKN 1 Pangkalan Kerinci

Rendahnya kualitas tingkat pendidikan ini berakibat pada keterampilan dan daya saing SDM yang rendah, sehingga membatasi peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan berpenghasilan tinggi.

Dukungan yang tidak merata atas fasilitas dan tenaga pendidik yang kurang berkualitas, menyebabkan kesenjangan kualitas pendidikan antara daerah pedesaan dengan daerah perkotaan yang lebih maju.

Perlu ada kebijakan pendidikan untuk pemerataan kualitas pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan pembangunan dengan dukungan SDA unggulan setempat. Artinya anak didik sejak dini sudah diperkenalkan kekayaan SDA mulai dari lingkungan daerah masing-masing.

Motivasi generasi muda untuk menciptakan lapangan kerja dengan IPTEK modern dan potensi SDA yang melimpah diharapkan dapat tumbuh sejak dini. Generasi muda yang semakin cerdas dan profesional menjadi harapan penggerak pembangunan jangka panjang.

Untuk mengetahui apa saja yang wajib diwaspadai oleh setiap warga dalam Panca Gatra (ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan, akan disampaikn dalam edisi berikut. Semoga bermanfaat.

Merdeka.
PA.Rangkuti (PAR)

,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *