Kota Batu, Barometer99.com – Awal masuk ke SDN Temas 02, Iswatul Khoriyah, S.Pd yang saat ini menjabat sebagai Kepala Sekolah SDN Temas 02, dirinya menyusuri lingkungan untuk mengenal seutuhnya tentang sekolah tersebut, baik melalui ngobrol bareng maupun pengamatan secara pribadi untuk beradaptasi di lingkungan yang baru.
Dalam penelusuran di lapangan, ia menemukan adanya permasalahan, dimana salah satunya terkait dengan kemampuan literasi siswa. Dari hasil evalausi, ditemukannya beberapa siswa yang tingkat kemampuannya masih rendah.
Hal ini terlihat pada hasil mutu pendidikan pada tahun 2024 lalu, terutama pada indikator kompetensi membaca teks informasi dan kompetensi membaca teks sastra.
Langkah awal untuk mengatasi hal tersebut, maka tercetuslah inovasi Gerakan Literasi dengan Buku Berjenjang (Geldebujang) dan Pelangi Ilmu.

Dirinya menjelaskan, bahwa kegiatan inovasi ini memanfaatkan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah. Kemudian untuk kelancaran kegiatan dibentuklah TIM.
“Ya, jadi untuk Geldebujang berfokus pada pemanfaatan buku berjenjang yang diperoleh dari USAID Perioritas, sedangkan Pelangi Ilmu lebih berfokus pada pemanfaatan laptop chrome book, dengan tujuan menambah wawasan dan bekal bagi guru dalam menyajikan kegiatan membaca yang menyenangkan, maka sekolah mengadakan pelatihan terkait dengan strategi membaca menyenangkan dengan menggandeng Guru Binar,” terangnya kepada awak media, Selasa (10/3/2026).
Bak gayung bersambut, siapa sangka Guru Binar bersedia membantu dengan mengirimkan fasilitatornya untuk memberikan pelatihan dan pendampingan.
“Alhamdulilah, mereka bersedia karena Geldebujang dan Pelangi Ilmu bukan hanya sekadar kegiatan rutin, namun inovasi ini dirancang sebagai sebuah ‘jembatan’ yang menghubungkan kemampuan dasar siswa dengan kecintaan membaca yang mendalam, yang dikaitkan dengan penggunaan teknologi untuk memperluas akses dan memberikan kenyamanan bagi setiap anak untuk mencintai literasi,” ujarnya.
Menurutnya, Pelangi Ilmu sebagai kendaraan, sedangkan buku berjenjang sebagai peta yang menuntun mereka menjadi pembaca yang fasih dan kritis.
“Jadi tujuan kedua inovasi ini adalah untuk meningkatkan kemampuan literasi bagi para siswa dan siswi dalam membaca, menemukan dan mengambil informasi. Selain itu, pelaksanaan kedua inovasi ini sangat luwes karena dapat diintegrasikan dalam pembelajaran maupun dalam kegiatan perpustakaan atau pembiasaan membaca. Manfaat dari kegiatan ini tidak hanya dirasakan oleh murid-murid itu sendiri, tetapi juga guru dan orang tua,” tegasnya.
Lebih lanjut, Kepala Sekolah SDN Temas 02 ini juga mengungkapkan, adapun manfaat yang diperoleh melalui kegiatan ini antara lain dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa, dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa, dapat meningkatkan keberanian siswa, dan meningkatkan daya pikir siswa.
“Hasil dari kegiatan ini terlihat pada rapor pendidikan tahun 2025, dimana kemampuan literasi anak-anak mengalami peningkatan 10 persen terutama pada indikator kompetensi membaca teks informasi naik 7,50 persen dari skor 67,81 menjadi 74,81 dan kompetensi membaca teks sastra mengalami kenaikan 4,26 dari skor 62,29 menjadi 66,55,” papar Iswatul Khoriyah.
Hal senada juga disampaikan, Ratnawati, S.Pd selaku guru SDN Temas 02, yang menyampaikan bahwa di tengah gempuran era digital, buku cetak tetap memegang peranan krusial dalam perkembangan kognitif anak, terutama pada fase emas literasi di kelas 1-3 SD.
Menurutnya, rendahnya minat baca pada kemampuan literasi dasar pada anak-anak usia dini masih menjadi tantangan besar di dunia pendidikan Indonesia. Pengamat pendidikan menyatakan, bahwa literasi bukan sekadar mengeja, melainkan memahami makna.
“Menghadapi tantangan rendahnya minat baca di tingkat sekolah dasar, maka SDN Temas 02 melakukan langkah berani dengan meluncurkan inovasi unggulan bernama Gerakan Literasi dengan Buku Berjenjang (Geldebujang). Program ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan metode belajar membaca yang lebih inklusif dan tidak mengintimidasi siswa di kelas awal,” katanya.
Dirinya menilai, bahwa setiap anak memiliki kecepatan yang berbeda. Melalui inovasi Geldebujang memastikan, bahwa tidak ada satu pun siswa kelas 1 hingga 3 yang merasa tertinggal hanya karena mereka belum mampu membaca buku yang tebal.
“Pihak sekolah berharap, Geldebujang dapat menjadi model bagi sekolah lain. Sebab, inovasi ini membuktikan bahwa dengan media yang tepat dan pendekatan yang berjenjang, hambatan literasi dapat diatasi sejak dini. Oleh karena itu, Geldebujang merupakan jembatan bagi anak-anak kami untuk menyeberang dari sekadar bisa mengeja menuju kemampuan memahami dunia. Kami ingin mereka tidak hanya mampu membaca, tapi sungguh-sungguh gemar membaca,” tegasnya dengan optimis.
Sementara itu, Sholikin, S.Pd yang juga sebagai guru di SDN Temas 02 juga menambahkan, jika inovasi ‘Pelangi Ilmu’ yang berawal dari Pengalaman Nyata ke Digital Interaktif di SDN Temas 02, berangkat dari kebutuhan dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, bermakna, dan selaras dengan perkembangan teknologi.
“Sekolah menyadari, bahwa peserta didik tidak cukup hanya memahami teori di kelas saja, akan tetapi juga perlu mengalami, mengeksplorasi, dan mengolah pengetahuan secara kreatif. Melalui konsep ini, proses belajar dimulai dari pengalaman nyata siswa di lingkungan sekitar. Mereka melakukan observasi, wawancara sederhana, serta kegiatan berbasis proyek yang terintegrasi lintas mata pelajaran. Setiap pengalaman tersebut kemudian diolah menjadi karya digital interaktif seperti e-book, video pembelajaran, infografis, maupun kuis digital,” timpalnya.
Dengan demikian, menurutnya para siswa dan siswi tidak hanya sekadar belajar untuk memahami materi saja, tetapi juga mengembangkan literasi baca tulis, literasi digital, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi.

“Sebab dalam pelaksanaannya, guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing proses eksplorasi sekaligus pendamping dalam digitalisasi karya. Sementara itu, para murid-murid menjadi subjek aktif yang merancang, menyusun, dan mempresentasikan hasil belajarnya,” urainya.
Iapun menegaskan, jika pemanfaatan teknologi informasi sekolah menjadi sarana yang sangat penting untuk memperluas akses dan memperkuat kualitas pembelajaran.
“Dampak inovasi ini terlihat dari meningkatnya kepercayaan diri mereka saat mempresentasikan karya, suasana kelas yang lebih hidup, serta keterlibatan orang tua yang dapat mengakses hasil belajar secara digital. Pelangi Ilmu tidak sekadar program, melainkan budaya belajar baru yang menghubungkan pengalaman nyata dengan transformasi digital, sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan, menyenangkan, dan berkelanjutan,” tandasnya.
Siswa dan siswi di SDN Temas 02, saat tengah meningkatkan literasi dengan membaca yang terintegrasi dalam pembelajaran.
Ratri Iswanto












