Fokus Bela Negara Kondisi Awal Menuju Indonesia Emas 2045 

Edisi kesembilan, Kamis 22 Januari 2026

Salam Bela Negara.

Kondisi aspek sosial mencakup lima gatra (Panca Gatra); ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan menuju Indonesia Emas 2045. Akan ditampilkan secara bertahap. Aspek kelima adalah gatra Pertahanan Keamanan.

*Aspek kelima Pertahanan Keamanan*

Aspek Pertahanan Keamanan (HANKAM) adalah salah satu faktor yang terkait dengan upaya negara menjamin kedaulatan negara dan menjamin keamanan dengan kekuatan utama TNI dan POLRI berdasarkan SISHANKAMRATA (Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta).

SISHANKAMRATA adalah sistem pertahanan negara Indonesia yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, di mana TNI dan POLRI sebagai komponen utama serta rakyat sebagai komponen pendukung, bertujuan menjaga kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa dari segala bentuk HTGA (Hambatan, Tantangan, Gangguan dan Ancaman).

Sejarah telah membuktikan bahwa TNI selalu tampil dalam kondisi kritis untuk menyelamatkan negara dari ancaman yang berasal dari dalam negeri dan luar negeri. TNI telah menjadi benteng utama dalam menjaga dan menjamin kelangsungan hidup NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Pembangunan kekuatan TNI semakin ditingkatkan dengan pendekatan profesionalisme dan peralatan militer yang semakin canggih. Era dunia yang semakin modern, menunjukkan bahwa ancaman militer dan nonmiliter semakin canggih yang sama bahayanya bagi bangsa dan negara Indonesia. Perlu antisipasi sejak dini dengan melibatkan seluruh komponen bangsa.

UU Nomor 23 tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara, menjadi acuan hukum untuk mentransformasikan Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam, dan Sumber Daya Buatan, serta Sarana dan Prasarana Nasional menjadi kekuatan Pertahanan Negara yang siap digunakan untuk kepentingan Pertahanan Negara. Artinya kesiapan TNI dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman militer, ancaman nonmiliter; dan/atau ancaman hibrida telah menjadi program TNI.

Posisi POLRI sedang mendapat perhatian dari masyarakat untuk berbenah diri agar tugas-tugas POLRI semakin profesional sesuai dengan fungsi utamanya untuk memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, sesuai mandat konstitusional UUD 1945 dan UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Kini sedang ada proses reformasi POLRI, kita harapkan POLRI akan tampil dengan wajah baru yang semakin profesional dan konsisten terhadap tugas dan fungsinya.

Baca Juga :  Kepala BNNP Serahkan Bantuan Sembako dari BNN Republik Indonesia kepada Para Personil BNNP dan BNNK Jajaran yang Terdampak Musibah Banjir Aceh

Peran Rakyat Sipil Dalam SISHANKAMRATA

Kehadiran HANSIP sebagai wadan peran rakyat ikut serta dalam menjaga NKRI di masa lalu, didasarkan pada Keputusan Wakil Menteri Pertama Urusan Pertahanan/Kemanan No. MI/A/72/62 tanggal 19 April Tahun 1962, kemudian pembinaannya diserahkan kepada Mendagri yang dikukuhkan dengan Kepres No. 55 Tahun 1972. Wadah HANSIP dikembangkan dalam dua kelompok yakni HANSIP dan KAMRA. HANSIP sebagai komponen pertahanan negara, membantu TNI/POLRI, dalam mengamankan wilayah dari ancaman. Sedangkan KAMRA dibentuk membantu POLRI dalam pemeliharaan Kamtibmas (UU No. 32 tahun 2004).

Untuk penyesuaian dengan perkembangan, diterbitkan Perpres No. 88 Tahun 2014 tentang Pencabutan Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1972 Tentang Penjempurnaan Organisasi Pertahanan Sipil Dan Organisasi Perlawanan Dan Keamanan Rakjat Dalam Rangka Penertiban Pelaksanaan SISHANKAMRATA. Nama HANSIP berubah menjadi LINMAS (Perlindungan Masyarakat) sesuai dengan UU 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan pembinaannya oleh PEMDA dibawah Satuan Polisi Pamong Praja (SATPOL PP).

Sejak itu peran HANSIP/KAMRA praktis hilang digantikan oleh LINMAS bersama SATPOL PP. Permendagri No. 84 Tahun 2014 mengatur penyelenggaraan LINMAS di mana rakyat sipil melalui Satuan Perlindungan Masyarakat (SATLINMAS), yang dibentuk di Desa/Kelurahan menjadi garda terdepan dalam bela negara, mengatasi bencana, ketertiban, dan keamanan, sebagai bagian integral dari SISHANKAMRATA di tingkat lokal.

Sesungguhnya potensi sipil secara sukarela dengan tulus ikhlas ikut serta memperkokoh pertahanan dan keamanan dalam rangka SISHANKAMRATA adalah kekuatan bangsa untuk memperkuat Ketahanan Nasional yang perlu ditata kembali secara nasional. Kehadiran HANSIP untuk dipersiapkan sebagai kekuatan rakyat ikut serta memperkokoh ketahanan nasional baik dalam aspek militer dengan pembinaan TNI maupun dalam aspek nonmiliter dengan pembinaan Pemerintah perlu dikaji ulang agar peran rakyat lebih efektif ikut serta dalam upaya bela negara termasuk dalam perang Gerilya jika negara memerlukan.

Baca Juga :  Menyongsong Indonesia Emas 2045

Menurut Jenderal Abdul Haris Nasution dalam bukunya “Pokok-pokok Gerilya”, perang gerilya sangatlah efektif menghadapi musuh karena dapat mengelabui, bahkan melakukan serangan kilat. Taktik perang Gerilya sudah terbukti ampuh saat melawan pasukan Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia pasca Perang Dunia Kedua. Dengan dukungan rakyat dan potensi hutan tropika sebagai medan perang Gerilya, membuat Belanda kewalahan melawan pasukan gerilya Indonesia saat itu. Strategi perang Gerilya telah dipakai oleh Ho Chi di Vietnam melawan Amerika, dan ternyata Amerika dengan persenjataan canggih bisa kalah dengan sistem ini.

Potensi generasi muda perlu dipersiapkan untuk ikut serta melakukan perang Gerilya jika negara membutuhkan. Khusus kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Resimen Mahasiswa dengan sukarela dan tulus ikhlas menjadi anggota yang bertekad ikut serta dalam upaya bela negara, perlu ditata ulang agar menjadi wadah pembinaan kader-kader bela negara sesuai dengan profesi masing-masing.

MENWA dengan semboyan “Widya Casterna Dharma Sidha” yang ingin melengkapi profesinya sesuai dengan IPTEK yang diperoleh dari kampus dengan ilmu keprajuritan dari TNI yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan. MENWA perlu dikembalikan kepada tujuan awalnya sebagai pasukan cadangan TNI yang siap ikut dalam menghadapi musuh yang mengancam NKRI.

Salah satu faktor kekuatan perang Gerilya adalah hutan tropis yang kita miliki dan di didukung oleh berbagai bahan pangan alami yang ada di dalamnya untuk bertahan hidup di hutan. Oleh karena itu melestarikan hutan bukan hanya untuk menjaga ekosistem tetapi juga menjadi dukungan alam dalam sistem perang Gerilya melawan kekuatan asing jika melakukan invasi ke wilayah NKRI.

Sesungguhnya pokok-pokok perang Gerilya dapat juga digunakan untuk melawan ancaman nonmiliter seperti melawan korupsi, melawan narkoba, dan sebagainya. Intinya adalah jika ada kondisi yang mengancam kelangsungan hidup NKRI, rakyat bersama pemerintah tampil melakukan perlawanan dengan terkoordinasi, dan ada kejelasan “siapa berbuat apa dan apa yang dilakukan oleh siapa”.

Baca Juga :  Wamendagri Bima Arya Dorong Optimalisasi Aset Daerah untuk Pembinaan Olahraga

Sejarah perjuangan bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan dan mempertahankannya hingga saat ini perlu dipahami oleh seluruh rakyat terutama generasi penerus. Agar nilai-nilai juang generasi senior tetap hidup sebagai bagian dari karakter bela negara pada diri setiap warganegara, diperlukan pendidikan karakter bela negara.

Sesungguhnya pendidikan Pancasila dan UUD 1945 serta pendidikan Kewarganegaraan (PPKn) adalah dalam rangka melahirkan kader-kader bela negara. Namun fakta menunjukkan bahwa kader-kader bela negara banyak yang melakukan kegiatan yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan melanggar peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Muatan pendidikan PPKn perlu dievaluasi dengan fokus menumbuhkan jiwa Pancasilais dan semangat bela negara mengacu kepada UUD 1945 sebagai pedoman konstitusi.

Potensi rakyat yang Pancasilais dan taat kepada konstitusi berdasarkan UUD 1945 menjadi kekuatan utama bangsa Indonesia meraih cita-cita kemerdekaan. LEMHANNAS telah merumuskan panduan untuk melakukan aksi bela negara yakni: konsepsi Wawasan Nusantara, Ketahanan Nasional dan Kewaspadaan Nasional, yang diharapkan melahirkan generasi muda yang memiliki rasa cinta Tanah Air, jiwa kebangsaan, setia kepada Pancasila, dan rela berkorban untuk bangsa dan negara, serta siap berbuat yang terbaik ikut serta menjaga, melindungi, membangun dan manjamin NKRI sebagai upaya bela negara.

Merdeka.
P.A. Rangkuti (PAR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *