Umum  

Fokus Bela Negara Kondisi Awal Menuju Indonesia Emas 2045 

Edisi kedelapan, Senin 19 Januari 2026

Salam Bela Negara.

Kondisi Ketahanan Nasional aspek sosial mencakup lima gatra (Panca Gatra); ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan menuju Indonesia Emas 2045. Akan ditampilkan secara bertahap. Aspek keempat adalah aspek sosial budaya.

Aspek keempat Sosial Budaya

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata sosial memiliki arti terkait dengan masyarakat atau suka memperhatikan kepentingan umum (suka menolong, menderma, dan sebagainya). Sementara budaya merupakan pikiran, akal budi, adat istiadat, atau sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang. Esensi ketahanan gatra sosial budaya adalah tentang pengaturan dan penyelenggaraan kehidupan sosial budaya yang berkaitan dengan cara hidup, nilai, norma, adat istiadat, kepercayaan, bahasa, seni, dan interaksi manusia dalam suatu kelompok masyarakat yang membentuk identitas dan perilaku kolektif mereka.

Secara sosial, kondisi Indonesia sangat dipengaruhi oleh keragaman etnis, agama, dan adat istiadat. Keberagaman ini menciptakan pola interaksi sosial yang kaya, tetapi juga mempunyai tantangan, seperti ketegangan antar kelompok dalam memperjuangkan kepentingan masing-masing. Kondisi sosial sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan politik sepeti tingkat kemiskinan, akses pendidikan, dan kesenjangan ekonomi yang sering menjadi isu sosial. Perubahan kebijakan pemerintah dan program pembangunan dapat memperkokoh aspek sosial tapi juga dapat menimbulkan konflik sosial.

Dari segi budaya, Indonesia dikenal dengan kekayaan tradisi dan adat istiadatnya, di mana setiap daerah memiliki kebudayaan yang khas, seperti bahasa daerah, upacara adat, pakaian tradisional, dan makanan khas. Kebudayaan ini mempengaruhi cara hidup masyarakat, pola pikir, serta hubungan antara individu dan komunitas. Budaya di Indonesia juga mencakup sistem nilai, etika dan norma yang membentuk perilaku budaya seperti konsep gotong royong dan hubungan kekeluargaan yang sangat erat dan penuh dengan nilai-nilai kearifan lokal.

Baca Juga :  Anggota DPRD NTB Muhammad Aminulah Desak APH Usut Tuntas Kasus Proyek Jalan Lenangguar–Lunyuk

Peran Gatra sosial budaya

Gatra sosial budaya memiliki peran yang sangat penting karena berkaitan langsung dengan nilai, etika, norma, adat istiadat, moral, serta pola perilaku masyarakat. Unsur sosial budaya mempengaruhi cara berpikir dan bertindak masyarakat Indonesia, sehingga menjadi fondasi pembentukan karakter bangsa, daya tahan persatuan dan kesatuan bangsa serta menjamin identitas nasional agar tidak mudah luntur oleh pengaruh luar.

Perubahan sosial budaya yang semakin modern dengan cepat, terjadi seiring dengan perkembangan zaman yang sangat dipengaruhi oleh kemajuan IPTEK dan era globalisasi. Memasuki era modernisasi sosial budaya, bangsa Indonesia menghadapi berbagai hambatan dan tantangan yang kompleks yang berdampak terhadap nilai-nilai sosial budaya.

Nilai-nilai tradisional memberikan landasan moral dan identitas yang membentuk karakter bangsa, sedangkan nilai-nilai modernitas mengakibatkan perubahan besar untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Tantangan dalam menghadapi perubahan sosial budaya meliputi; resistensi terhadap nilai baru, dominasi budaya global, disintegrasi sosial akibat perbedaan nilai, kesenjangan ekonomi, hilangnya identitas lokal, serta perubahan gaya hidup dan pola interaksi sosial yang cepat. Semua perubahan nilai-nilai tersebut menuntut adaptasi, ketahanan, dan kemampuan menyaring pengaruh budaya asing agar tetap menjaga nilai-nilai luhur bangsa.

Era modernisasi telah membawa pengaruh budaya asing (seperti gaya hidup, norma) yang bisa mengikis keaslian budaya lokal dan menyebabkan homogenisasi budaya berciri pola kehidupan modern. Proses perubahan nilai-nilai sosial budaya menunjukkan perbedaan sikap perilaku dengan masyarakat tradisional yang dapat mengancam kelangsungan warisan budaya lokal yang unik dan bernilai mulia.

Kehidupan modern dengan sikap perilaku yang umumnya berlangsung diperkotaan, dapat menimbulkan kesenjangan sosial budaya dengan kehidupan di pedesaan yang masih kental dengan sikap perilaku tradisional.
Pengaruh dari teknologi informasi yang semakin canggih, sudah menjadi faktor yang sangat kuat terjadinya poses kehidupan modern dipedesaan.

Baca Juga :  Kepala Desa Lilik Rahayu Sambut Tim Safari Ramadhan LDNU MWCNU Donomulyo di Desa Tlogosari

Pola interaksi sosial telah berubah dari pola komunikasi langsung menjadi tidak langsung (menggunakan hp) dan telah melemahkan ikatan sosial budaya yang telah berlangsung selama ini. Masyarakat hrs bijaksana menggunakan Hp, menghindari kata-kata kasar dan bahasa yang tidak beretika serta tidak menampilkan konten yang tidak bermoral. Cara berbicara dan bersikap terhadap orangtua, pejabat negara, guru dan tokoh masyarakat semakin tidak santun dan sopan sudah menjadi tontonan sehari-hari.

Kondisi ini semakin berkembang akibat gaya hidup modern yang telah mengembangkan sikap prilaku individualisme, materialisme dan hedonisme yang ikut merusak jatidiri masyarakat yang semakin mendambakan harta kekayaan dan cenderung meninggalkan kebersamaan, ikatan sosial tradisional dan nilai-nilai sopan santun.

Sesungguhnya kebudayaan nasional adalah puncak-puncak budaya daerah, artinya kelestarian nilai-nilai budaya daerah menjadi sangat penting sebagai basis identitas kebudayaan nasional. Agar budaya bangsa tetap terjaga meliputi; bahasa daerah, kekayaan nilai-nilai sosial budaya sebagai karya besar nenek moyang bangsa Indonesia yang sudah berlangsung secara turun temurun perlu kehadiran negara dan masyarakat yang lebih intensif. Perubahan merupakan kebutuhan hidup yang tidak biasa dihindari, namun perlu ada pemahaman bahwa perubahan itu harus tetap menjamin lestarinya nilai-nilai etika dan moral seiring dengan nilai-nilai Pancasila.

Diperlukan harmonisasi penerapan nilai-nilai modern dengan nilai-nilai tradisional.

Untuk mengantispasi perubahan nilai-nilai sosial budaya yang semakin cepat perlu ditingkatkan pendidikan yang bermuatan sejarah peradaban bangsa Indonesia yang kaya dengan nilai-nilai etika, dan moral. Generasi penerus perlu disiapkan sejak dini dengan sikap adaptif terhadap perubahan yang tetap konsisten terhadap nilai-nilai jatidiri bangsa. Artinya bangsa Indonesia tidak menolak modernisasi, tetapi tetap memiliki jatidiri sebagai bangsa yang beradap, relijius dan menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan dan kebangsaan.

Baca Juga :  Amankan Pergantian Tahun Kodim Sleman Siagakan Personel

Pemerintah dan masyarakat memiliki tanggung jawab penting dalam mempertahankan keseimbangan antara kehidupan nilai-nilai tradisi dan nilai-nilai modern. Selain itu, dukungan kebijakan untuk pelestarian budaya juga harus dikuatkan, termasuk memberikan insentif kepada komunitas lokal agar terus merawat tradisi.

Usaha ini memerlukan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk akademisi, pemerintah, dan masyarakat luas. Peran pendidikan dan organisasi kemasyarakatan yang bergerak dalam sosial budaya semakin penting, agar proses alih generasi tidak menimbulkan perubahan peradaban yang dapat menimbulkan gap atau konflik antara generasi senior dengan generasi penerus.

Dalam memasuki era perubahan sosial budaya yang semakin modern, diharapkan bangsa Indonesia tetap tumbuh sesuai jatidiri dan karakternya yang berbasis pada nilai-nilai Pancasila. Perkembangan bangsa Indonesia tetap tumbuh dan berkembang tidak menjadi bangsa yang merasa aneh di negerinya sendiri.

Harmoni antara nilai-nilai tradisi dan modernitas menjadi kunci bangsa Indonesia dapat tumbuh kuat dan maju meraih Indonesia Emas 2045.

Merdeka.
P.A. Rangkuti (PAR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *