Umum  

Ironi Zaman: Saat Kekayaan Disanjung Bak Dewa, Kemiskinan Justru Ditekan dan Diremehkan

 

Oleh : Eko Ratri Iswanto

Barometer99.com – 26/12/2025, Zaman sekarang sungguh mengherankan. Nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya menjunjung keadilan dan kesetaraan perlahan terasa memudar, tergantikan oleh ukuran materi dan kekayaan. Fenomena yang tampak jelas di tengah masyarakat hari ini adalah bagaimana orang kaya kerap disanjung, dihormati, bahkan diperlakukan seolah-olah tidak pernah salah.

Sebaliknya, mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi justru sering dipandang rendah, ditekan, dan menjadi korban ketidakadilan sosial.

Di berbagai lini kehidupan, kekayaan seakan menjadi tiket utama untuk mendapatkan perlakuan istimewa. Suara orang kaya lebih didengar, pendapatnya dianggap paling benar, dan kehadirannya selalu dielu-elukan. Tak jarang, hukum dan aturan terasa lebih lunak ketika berhadapan dengan mereka yang memiliki harta dan kuasa. Kondisi ini menciptakan kesan bahwa uang mampu membeli segalanya, termasuk kehormatan dan kebenaran.

Sementara itu, nasib masyarakat miskin justru berada di sisi yang berlawanan. Kemiskinan sering dijadikan alasan untuk meremehkan martabat seseorang. Orang miskin kerap dicurigai, dipersulit urusannya, bahkan disalahkan atas keadaan yang menimpa dirinya sendiri. Padahal, kemiskinan bukanlah sebuah kejahatan, melainkan kondisi sosial yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama untuk diperbaiki.

Ironi ini semakin terasa ketika nilai agama dan budaya luhur yang mengajarkan empati, keadilan, serta kepedulian sosial hanya menjadi slogan semata. Dalam ajaran agama maupun kearifan lokal, manusia dinilai bukan dari harta yang dimiliki, melainkan dari akhlak, kejujuran, dan kepeduliannya terhadap sesama. Namun realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya: harta menjadi ukuran utama penghormatan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka jurang ketimpangan sosial akan semakin melebar. Rasa keadilan akan terkikis, dan kepercayaan masyarakat terhadap nilai moral serta hukum pun bisa runtuh. Sudah seharusnya masyarakat kembali bercermin dan bertanya pada hati nurani: apakah kita akan terus menyembah kekayaan, atau mulai menghargai manusia sebagai manusia, tanpa memandang status sosial dan ekonomi.
Zaman boleh berubah, tetapi nilai kemanusiaan seharusnya tetap dijaga.

Baca Juga :  Ketua DPC Baru PDI Perjuangan Sorong Selatan Tancap Gas, Petronela Krenak Siap Turun ke Basis

Menghormati yang kaya tidaklah salah, namun menindas yang miskin adalah sebuah kezaliman. Keadilan sejati hanya akan terwujud ketika setiap manusia diperlakukan setara, bermartabat, dan berhak atas penghormatan yang sama.

 

Yang kaya disembah bagaikan dewa yang miskin ditindas🤦‍♂️🤦‍♂️🤦‍♂️

Oleh : Eko Ratri / Ainun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *