Umum  

Salam Bela Negara, Aksi Bela Negara Bidang Lingkungan Hidup

Edisi kedua puluh sembilan, Selasa 28 April 2026

FOKUS BELA NEGARA

(Forum Komunikasi Bela Negara)

Salam Bela Negara.

Aksi Bela Negara Bidang Lingkungan Hidup

Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang mencakup semua benda, daya, keadaan, makhluk hidup (manusia, hewan, tumbuhan), dan perilaku manusia, yang saling mempengaruhi kelangsungan kehidupan. Lingkungan hidup mencakup komponen biotik (hayati) dan abiotik (fisik) yang membentuk ekosistem. Komponen biotik meliputi makhluk hidup manusia, hewan, tumbuhan, termasuk mikroorganisme, serta komponen abiotik meliputi fisik atau benda mati seperti tanah, air, udara, dan cahaya matahari.

 

UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH), adalah landasan hukum utama untuk melestarikan fungsi lingkungan, mencegah pencemaran/ kerusakan, serta menjamin hak atas lingkungan sehat. Tujuannya antara lain adalah: 1) menghindari wilayah NKRI dari pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup, 2) menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian ekosistem, 3) menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup, 4) mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan lingkungan hidup, 5) pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana, dan 6) mewujudkan pembangunan ramah lingkungan berkelanjutan.

 

Konsisi Lingkungan Hidup Dunia.

 

Kondisi lingkungan hidup dunia saat ini mengalami krisis serius akibat aktivitas manusia, ditandai dengan polusi, perubahan iklim, dan penipisan sumber daya alam. Polusi udara akibat emisi karbon dan pencemaran partikel di udara yang terus meningkat, mendorong terjadinya perubahan iklim dan menyebabkan penurunan kualitas hidup. Perubahan iklim dan peningkatan suhu bumi telah menimbulkan pemanasan global yang berdampak terjadinya cuaca ekstrem, mencairnya es, dan naiknya permukaan laut yang menggangu proses ekosistem alam. Sekitar 90 persen populasi dunia mengalami bencana iklim seperti gelombang panas dan banjir yang mengurangi harapan hidup manusia.

 

Penurunan keanekaragaman hayati akbat deforestasi dan kerusakan habitat mengancam kelangsungan hidup flora dan fauna, dan juga meningkatkan risiko penyakit zoonosis. Penyakit zoonosis menular yang berpindah dari hewan ke manusia atau sebaliknya, disebabkan oleh bakteri, virus, parasit, atau jamur. Lebih dari 60 persen penyakit infeksi pada manusia bersifat zoonotik, dan sering ditularkan melalui kontak langsung, gigitan, vektor (nyamuk/kutu), atau makanan terkontaminasi, seperti rabies, flu burung, antraks, dan leptospirosis (penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri).

Baca Juga :  Workshop Pengembangan dan Penguatan Program Studi Dokter Spesialis Kedokteran Kelautan FKIK Universitas Mataram

 

Perhatian dunia semakin meningkat terhadap hubungan timbal balik antara manusia, organisme, dan kondisi alam yang saling mempengaruhi. Greenpeace salah satu organisasi dunia yang bersifat independen berdiri tahun 1971, telah aktif melakukan kampanye lingkungan global. Kegiatan Greenpeace meliputi; pencegahan kerusakan alam, menjaga keseimbangan ekosistem, dan pelestarian untuk kelangsungan hidup melalui aksi damai dan konfrontasi kreatif untuk mengungkap perusakan lingkungan. Berbagai kegiatan telah banyak dilakukan diberbagai negara, berupaya ikut serta mempromosikan solusi lingkungan yang alami demi masa depan kehidupan di bumi.

 

Kondisi Lingkungan hidup di Indonesia

 

Indonesia termasuk negara yang menghadapi krisis lingkungan serius, terutama tentang sampah, deforestasi, dan polusi. Masalah utama sampah adalah terjadinya tumpukan sampah di kota-kota, karena proses pembuangan di pemukiman hingga pembuangan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) belum berlangsung tertip dan efektif. Kegiatan defortasi, kebakaran hutan/ gambut, pencemaran sungai, dan polusi udara turut menurunkan kondisi lingkungan di Indonesia. Aktivitas manusia seperti alih fungsi lahan dan pertambangan ikut mendorong meningkatnya kerusakan lingkungan yang menyebabkan terjadi banjir, longsor dan pemanasan udara.

 

Kerusakan hutan akibat penebangan liar, alih fungsi lahan menjadi perkebunan (terutama sawit), serta kegiatan pertambangan telah ikut mempercepat semakin sempitnya area habitat flora dan fauna. Beberapa jenis flora dan fauna telah semakin langka dan terancam punah yang akan mempengaruhi ekosistem bagi kehidupan alami. Konsisi sungai-sungai semakin banyak yang tercemar limbah industri, rumah tangga, dan limbah yang berasal dari aktivitas tambang. Pertambangan telah membuka permukaan tanah dan menghilangkan pohon dan tanaman lainnya serta menggali tanah dan menutupi lahan disekitarnya, bahkan sering mencemari sumber air dengan bahan kimia berbahaya seperti air raksa.

Baca Juga :  Koramil Cangkringn Sleman Ikut Melestarikan Budaya Labuhan Merapi

 

Kemacetan yang semakin meningkat terutama di kota-kota besar, telah berdampak terhadap kerugian perekonomian, gangguan kesehatan dan produktifitas kerja. Kemacetan transportasi dengan menggunakan kenderaan bermotor berdampak terhadap pemborosan bahan bakar minyak (BBM), gangguan kesehatan seperti gangguan mata, radang hidung, asma, dan paru-paru serta hilangnya waktu produktif. Kehilangan waktu karena kemacetan di sekitar Jakarta mencapai 2–3 jam per hari, dan jika diakumulasi setara dengan kehilangan 30–45 hari dalam setahun. Kemacetan di Jakarta dan sekitarnya terkasuk Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (JABODETABEK), telah menimbulkan kerugian ekonomi mencapai sekitar Rp100 triliun per tahun atau setara dengan 4 persen PDB dari daerah sekitanya.

 

Peran Masyarakat Melestarikan Lingkungan Hidup

 

Untuk mendorong masyarakat berperan aktif ikut serta dalam pelestarian ekosistem dan menjaga keseimbangan alam perlu pemahaman tentang urgensi pelestarian lingkungan hidup. Peran hutan dan tanaman lainnya, kebersihan di lingkungan publik, serta menghindari kemacetan di jalan raya merupakan faktor-faktor penentu untuk melestarikan lingkungan hidup yang alami. Betapapun sederhananya kegiatan setiap warga negara ikut serta melestarikan alam dalam menjamin lingkungan hidup yang sehat dengan ekosistem yang alami untuk kepentingan masa depan bangsa Indonesia adalah bela negara.

 

Tidak memotong kayu sembarangan dalam rangka pelestarian lingkungan hidup dapat menjadi penentu terciptanya lingkungan hidup yang sehat dan alami. Kayu yang ada di hutan memiliki peran yang sangat urgen dalam lingkungan hidup sebagai komponen ekologis sekaligus sumber daya ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia secara berkelanjutan. Kayu dalam hutan termasuk sebagai paru-paru dunia dengan menyerap karbon dioksida (CO2) dan melepaskan oksigen (O2) yang berperan penting dalam mengatasi pemanasan global. Akar pohon membantu mengikat tanah, mencegah erosi, menahan tanah longsor, serta menjadi tempat cadangan air tanah yang mengatur siklus air. Semboyan “kita jaga hutan dan hutan menjaga kita” perlu disosialisasikan dalam rangka ikut serta bela negara untuk melestarikan hutan.

Baca Juga :  TMMD Juga Membangun Jalan Hati Antara TNI dan Rakyat

 

Tidak membuang sampah sembarangan dan mulai memisahkan sampah berdasarkan jenis (organik, anorganik, B3) untuk mendukung daur ulang akan sangat membantu dalam mengatasi sampah. Daur ulang akan menumbuhkan industri pupuk kompos dan industri bahan baku sampah anorganik untuk keperluan rumah tangga menjadi program yang memberi keuntungan ekonomi bagi masyarakat. Sudah mulai banyak tempat sampah di publik dengan kode warna: warna hijau untuk sampah organik, warna kuning untuk sampah plastik/ kertas dan warna merah untuk sampah berbahaya. Sosialisasi pengelolaan sampah kolaboratif dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), dan restorasi ekosistem sangat mendukung lahirnya gerakan aksi bela negara bidang lingkungan.

 

Tertip di jalan dengan mematuhi rambu-rambu lalu lintas dapat menghilangkan kemacetan yang akan mengurangi polusi dan kehilangan BBM sia-sia, serta meningkatkan produktifitas kerja karena menghemat waktu, menghilangkan kelelahan dan stress di perjalanan. Budaya dengan pola hidup hemat, bersih, disiplin dan energik dalam memanfaatkan sumber daya alam untuk kehidupan sehari-hari akan mendorong terbangunnya lingkungan hidup yang lestari, segar dan nyaman yang sangat penting bagi tumbuhnya bangsa yang sehat, cerdas dan produktif menyongsong masa depan yang lebih sejahtera.

 

Semoga bermanfaat.

 

P.A. Rangkuti (PAR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *