Umum  

Menjawab Tantangan Zaman, Ponpes Nurul Qomar Dorong Generasi Islam Kreatif

Palembang, Barometer99.com – Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Terpadu Nurul Qomar menggelar Festival Generasi Islam Kreatif 2026 di lingkungan pesantren, Senin (26/1/2026). Kegiatan ini menjadi wujud nyata transformasi pesantren dalam menjawab tantangan pembangunan sumber daya manusia di era modern.

Walikota Palembang, Drs. Ratu Dewa M.Si

Acara dibuka langsung oleh Wali Kota Palembang Drs. Ratu Dewa, M.Si, yang sekaligus meresmikan gedung Taman Kanak-kanak (TK) Ponpes Nurul Qomar sebagai penguatan layanan pendidikan sejak usia dini.

Pesantren Tak Cukup Hanya Cetak Penghafal, Harus Bangun Karakter
Dalam sambutannya, Ratu Dewa menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk generasi masa depan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat dan berakhlak mulia.

“Pesantren hari ini tidak cukup hanya melahirkan santri yang pandai menghafal, tetapi harus mampu membentuk pribadi yang berkarakter, memiliki akhlak mulia, serta kecakapan hidup yang relevan dengan tantangan masa depan,” tegas Ratu Dewa.

Ia menilai Ponpes Nurul Qomar telah menunjukkan komitmen tersebut melalui pendekatan pendidikan terpadu yang menggabungkan nilai keislaman dan kreativitas.

Festival Jadi Ruang Aktualisasi Generasi Qurani Kreatif

Pembina Ponpes Nurul Qomar, Dr. H. R. Wijaya, M.Si, Ph.D

Pembina Ponpes Nurul Qomar, Dr. H. R. Wijaya, M.Si, Ph.D, mengatakan Festival Generasi Islam Kreatif 2026 dirancang sebagai ruang aktualisasi potensi santri, baik dari sisi intelektual, spiritual, maupun keterampilan hidup.

“Kami ingin membentuk generasi muda yang islami, cerdas, serta memiliki mental dan spiritual yang tangguh. Pendidikan Islam tidak boleh berhenti pada teori,” ujarnya.
Delapan Tangkai Lomba Asah Kognitif hingga Fisik-Motorik

Prof. Wijaya mengungkapkan, festival ini diisi dengan delapan tangkai lomba yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga kemampuan fisik-motorik dan kreativitas santri.

“Pemahaman Islam harus mencakup penafsiran, penghayatan, dan implementasi. Santri harus mampu menampilkan Islam yang hidup dan membumi dalam kehidupan sosial,” jelasnya.

Baca Juga :  Badko HMI Jawa Timur Gelar Aksi di Kanwil ATR/BPN, Tuntut Pembenahan Total Birokrasi Pertanahan dan Hentikan Pungutan Liar

Islam Inklusif, Bukan Tafsir Sempit dan Eksklusif

Lebih lanjut, Prof. Wijaya menekankan pentingnya menghadirkan pemahaman Islam yang inklusif dan mudah dipahami oleh generasi muda serta masyarakat luas.

“Islam tidak boleh dipersempit oleh tafsir-tafsir eksklusif yang sulit dijangkau. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan wajah Islam yang terbuka, humanis, dan rahmatan lil ‘alamin,” pungkasnya.

(AN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *