Aceh Utara, Barometer99.com – 20 Februari 2026 – Sebanyak 117 kepala keluarga (KK) korban banjir besar di Dusun Kareung, Gampong Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, masih bertahan di tenda pengungsian yang berdiri di bawah pepohonan kelapa sawit.
Memasuki hari kedua Ramadan, para penyintas menjalani sahur dan berbuka puasa di tenda darurat berlapis terpal. Fasilitas yang terbatas membuat aktivitas ibadah dan kebutuhan harian serba sederhana.
Salah seorang pengungsi, Halawiyah (69), menceritakan bahwa Ramadan kali ini menjadi pengalaman paling berat sepanjang hidupnya. Rumah yang ia tempati bersama anak-anaknya hilang terseret arus banjir.
“Kalau sahur dan berbuka di sini kami masak sendiri dengan makanan seadanya. Kadang ada juga bantuan dari dapur umum,” ujar Halawiyah. Ia menambahkan, kondisi kesehatannya yang menurun membuat situasi di pengungsian terasa semakin berat.
Para penyintas melaksanakan salat tarawih di musala darurat, sementara akses jalan yang terbatas dan lokasi pengungsian yang jauh dari permukiman membuat aktivitas sehari-hari cukup menantang.
Keuchik Gampong Buket Linteung, Mansur, mengatakan terdapat empat dusun di wilayahnya yang masih memiliki titik pengungsian. Di Dusun Kareung tercatat 117 KK, Dusun Teungoh dan Pateng sebanyak 218 KK, serta Dusun Lubok Mukum 18 KK.
“Kebun sawit ini merupakan dataran tertinggi dan dianggap paling aman saat banjir terjadi. Mereka bertahan di sini sambil menunggu hunian sementara dan tetap selesai dibangun,” jelas Mansur.
Kepala Dusun Kareung, Muslem, menyebut jumlah jiwa yang mengungsi di titik tersebut mencapai 520 orang. Hingga kini, kebutuhan logistik masih sangat terbatas.
“Sudah dua hari puasa, warga masih tinggal di tenda. Logistik masih sangat kurang memadai,” ujarnya.












